Bicara masalah perspektif memang selalu menarik. Karena keunikan manusia dengan segala kelebihan dan keterbatasan masing-masing, sering kali yang namanya perbedaan sangat sulit sekali untuk disatukan.

Saya teringat dalam sebuah acara Dialog Ke-Indonesiaan beberapa waktu lalu di Seoul. Saat itu kita sedang berdiskusi mengenai berbagai potensi WNI yang ada di Korea. Di situ kita duduk bersama, bersinergi, saling bertukar pikiran, mencoba menggali dan membangkitkan nilai-nilai optimisme untuk perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Saya sendiri percaya betul dengan sebuah kutipan: A changed individual, a transformed nation. Revolusi mental.

Bagian menarik pada Dialog Ke-Indonesiaan tersebut, pada sesi tanya jawab, ada seorang peserta angkat suara. Setelah kita banyak berdiskusi akan potensi dan rencana ke depan untuk Indonesia, peserta tersebut mengatakan, “Untuk apa sih kita melakukan itu semua? Kita di sini pekerja, ya sudah bekerja saja. Tidak perlulah kita melakukan hal-hal yang lain.” Ya, mungkin juga, yang pelajar juga, tidak perlulah memikirkan yang lain. Kuliah saja.

ayookekorea.wordpress.com
ayookekorea.wordpress.com

Saya tidak menyalahkan pemikiran peserta tersebut. Pada saat itu saya hanya merespon pernyataan beliau dengan mengangkat sebuah kisah sejarah masa lalu, tentang Bung Hatta. Saat itu Bung Hatta berusia 26 tahun. Tinggal di Belanda. Tergabung dalam Indische Vereeniging atau Perhimpunan Indonesia. Bung Hatta beserta WNI yang berada di Belanda nyatanya tidak hanya kuliah. Beliau kerap berdiskusi, memikirkan tentang Indonesia, mau dibawa ke mana Indonesia, perjuangan masih panjang, dan hal lainnya untuk Indonesia yang lebih baik.

Mungkin kita sering lupa pesan Baginda Rasulullah saw dalam sebuah hadits, “Khairukum anfa’uhum linnaas.” “Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia.” Rasul menggunakan kata “naas” yang berarti manusia. Ya, tidak terbatas pada orang muslim saja atau orang sesuku bangsa saja. Tapi lebih dari itu, hadits itu menjadi pemicu bagi kita untuk melihat lebih jauh, membuka khazanah berpikir, melebarkan sudut pandang kita, dan menjadikan kita lebih peduli kepada seluas-luasnya manusia. Masih kurangkah tauladan Rasulullah saw yang senantiasa menyuapi seorang wanita Yahudi yang buta matanya?

Purnama terindah Ramadhan ini pun Allah SWT hadiahkan kepada kita sebagai sebuah momen untuk melatih dan mengasah sensitivitas kita agar lebih peduli terhadap orang lain. Pertanyaan untuk kita renungkan bersama, “Seberapa besar kepedulian kita?”

Semoga Allah SWT menjadikan kita manusia-manusia yang peduli. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawwab.
Gwangju, 9 Juni 2016
Saudaramu yang senantiasa mencintaimu,
Muhammad Hilmy Alfaruqi

Leave a Reply