Istilah ini belum begitu dikenal di masyarakat. Mungkin hanya penulis dan beberapa orang saja yang mengetahuinya. Primus sendiri bukan menyadur dari nama seorang astis bintang sinetron tahun milenium (2000), akan tetapi singkatan dari pria mushalla. Begitu juga premus singkatan dari perempuan mushalla.

Di beberapa tempat, mushalla dilebelkan penamaannya untuk tempat ibadah shalat yang di bawah tingkatan masjid. Mungkin lebih tepatnya mushalla tempat terdekat untuk mendirikan shalat dibandingkan dengan jarak masjid yang hampir sebagian tempat berjarak jauh untuk dijangkau. Bahkan di daerah Aceh sendiri penamaan mushalla diperuntukan dengan sajadah, yakni kain tempat shalat sebagai alas tikar di saat mendirikan shalat. Namun dalam tulisan ini penulis lebih melingkupi penamaan masjid dan mushalla, tempat berjamaah shalat lima waktu.

Secara garis besar istilah primus dan premus ditekankan pada orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid dan mushalla sehingga kegiatan keagamaan senantiasa berjalan dengan lancar. Keberadaannya memberikan kontribusi yang berarti dalam perkembangan masjid tersebut dan kemajuan umat di lingkungan sekitarnya. Dalam ayat suci al-Quran orang-orang seperti ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam ayat ini Al-Razi memberikan ulasan bahwa primus dan premus terbagi menjadi dua bagian (golongan). Golongan pertama adalah orang-orang yang menghidupkan masjid secara langsung. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan dan ritual ibadah langsung terjun di masjid dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Golongan kedua merupakan golongan orang-orang yang memakmurkan masjid tidak secara langsung.

Dalam artian mereka memberikan dan menyalurkan bantuan pendanaan untuk pembangunan masjid meskipun tidak mengikuti kegiatan yang berjalan dalam masjid. Kedua golongan ini harus senantiasa sinergi dan perlu saling menopang, apalagi bisa dilakukan secara menyeluruh sebagaimana pesan dalam ayat di atas, yakni harus beriman, takut hanya kepada Allah meskipun dilecehkan dan diremehkan oleh orang sekitar, mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dan ritualnya, serta membantu lewat pendanaan baik melalui infaq shadaqah maupun zakat.

  1. Beriman kepada Allah dan hari akhir

    Ciri-ciri orang yang senantiasa memakmurkan mesjid itu ialah beriman dengan keimanan yang teguh pada Allah dan hari akhir. Keimanan kepada Allah dibarengi dengan keimanan kepada hari akhir menegaskan bahwa orang-orang yang memakmurkan mesjid harus senantiasa ikhlas beramal di setiap langkah ibadahnya di kala memenuhi keperluan masjid. Tidak ada yang diharapkan hanya balasan dari Allah saja di hari akhirat kelak. Tidak mengharapkan balasan langsung di dunia meskipun Allah sendiri membalasnya saat hidup di dunia sebagai bentuk karunia-Nya.

  1. Menjalankan kegiatan keagamaan dan ritual ibadah

    Dalam ayat 18 surat al-Taubah di atas bahwa primus dan premus yang senantiasa memakmurkan masjid selalu mendirikan shalat dengan memenuhi segala rukun dan syarat-syaratnya. Lebih luasnya sebagai primus dan premus harus mampu merapkan nilai-nilai shalat dalam segala dimensi hidupnya. Seperti shalat mencerminkan tepat waktu, kebersamaan, fokus pada tujuan, tertib dalam berbuat, dan nilai-nilai lainnya. Sehingga dengan mampu melaksanakan nilai-nilai tersebut bisa tergolongkan orang-orang yang mendirikan shalat bukan hanya menjadi orang yang melakukan shalat.

  1. Mendanai sarana penunjang masjid

    Seluruh ayat-ayat dalam al-Quran yang mencantumkan redaksi mendirikan shalat pasti dibarengi dengan redaksi menunaikan zakat. Itu sebagai cerminan bahwa tidak hanya membenahi hubungan dengan Allah sebagai bentuk jalinan komunikasi vertikal, tetapi perlu memperhatikan dengan betul-betul akan jalinan komunikasi dengan sesama manusia dan alam semesta (makhluk Allah) sebagai hubungan horizontal.

    Setidaknya harus peduli dengan sesama manusia agar tercipta kerukunan sehingga seorang primus dan premus bisa bermanfaat bagi orang lain, bukan menjadi beban bagi orang lain. Keberadaannya memberikan solusi dan keteduhan bagi yang lain, bukan menjadi beban sebagai pengangguran yang berdalih memakmurkan masjid dengan berdiam diri di dalamnya. Justru dengan aktif memakmurkan masjid harus berupaya untuk berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan masjid lewat kegiatan-kegiatan bermanfaat dan bantuan-bantuan yang ia cari dari hasil jerih payahnya.

  1. Takut kepada Allah

    Sebutan primus (pria mushalla) dan premus (perempuan mushallah) yang bergelut dalam dunia masjid dan mushalla terkadang diremehkan oleh kalangan orang-orang sekitarnya. Sebutan kolot dan kuker (kurang kerjaan) melekat di benak orang-orang. Namun justru jika ingin lebih keren dalam menghilangkan kekolotan harus bergelut di dunia masjid. Di masjid lah kita bisa silaturahmi dari berbagai kalangan. Muda tua, hitam putih, kecil besar, semuanya duduk sederajat ada di dalam masjid. Tentu orang-orang yang rajin bersilaturahmi akan Allah mudahkan rezekinya dan memperoleh kemudahan dalam setiap masalahnya.

    Begitu pula seorang primus dan premus akan semakin tersibukan dengan kegiatan-kegiatan sosial maupun keagamaan yang diperlukan di tengah-tengah masyarakat. Keberadaannya memberikan manfaat yang berarti bagi orang lain. Semakin bermanfaat seseorang di mata orang lain, maka mutu dan nilainya semakin tinggi. Begitulah sabda Rasullullah Saw bahwa orang yang baik mutunya bergantung seberapa butuh orang lain pada dirinya. Maka perbanyaklah amal dan kegiatan bermanfaat untuk orang banyak. Bagi kalangan primus dan premus tentu hanya perlu takut pada Allah, bukan takut pada cemoohan maupun olok-olok dan hinaan orang lain.

Itulah empat hal yang perlu diperhatikan bagi seseorang yang betul-betul ingin mengabdikan diri kepada masjid maupun mushalla. Insya Allah jika betul-betul membulatkan tekad hatinya untuk menjadi golongan primus dan premus, maka segala kebutuhan dunia dan akhiratnya akan dicukupkan oleh Allah Swt.

Sebagaimana janji Rasul Saw bahwa ada tujuh golongan yang memperoleh naungan di yaumul qiyamah nanti saat tidak ada naungan kecuali naungan dari Allah Swt, salah satunya yakni orang-orang yang hatinya terkait (bergantung) kepada masjid. Semoga kita termasuk golongan primus dan premus yang dijanjikan oleh Allah ini. Amiin