Berbicara oleh-oleh atau buah tangan tentu mengingatkan pada benda berharga sebagai bentuk kenang-kenangan selepas bepergian dari suatu daerah. Bahkan tidak hanya berbentuk kenangan saja, oleh-oleh pun bisa menggambarkan daerah yang dikunjungi sehingga bisa membekas pada pikiran dan hati orang yang menerima oleh-oleh tersebut. Katakanlah bila bepergian ke daerah Sumedang, tentu barang bawaan yang akan teringat di pikiran adalah tahu khasnya. Begitu pula bila bawaannya berupa apel maka mengindikasikan perjalanan selepas dari Malang.

Lain halnya dengan orang yang bepergian ibadah haji. Ibadah ritual perjalanan jasmani dan rahani ini tidak hanya membawa sekedar buah kurma dan qismis serta kacang-kacangan saja. Kerena ternyata buah-buahan dan kacang-kacangan tersebut pula bisa didapatkan di Tanah Abang atau di grosir-grosir terdekat di kota-kota.

Sehingga tidak bisa orang yang membawa buah kurma menggambarkan orang yang selepas menunaikan ibadah haji. Lebih dari itu seorang yang bepergian haji harus membawa oleh-oleh yang harus diemban dan dipikul sekembalinya ke tanah air. Berikut beberapa oleh-oleh jamaah haji yang perlu dibawa sebagai kado kejutan untuk sanak taulan di kampungnya.

  1. Semangat ibadah melalui shalat berjamaah

Cerminan seorang muslim memiliki kadar keimanannya tinggi tergambar dari semangat beribadah. Semakin kuat upaya melaksanakan ibadahnya menandakan tingginya keimanan. Ibadah yang paling utama dan pertama tiada lain adalah ibadah shalat lima waktu. Dan shalat lima waktu pun bisa mencapai kesempurnaan bila dilaksanakan dengan berjamaah. Itu artinya bahwa berjamaah memiliki nilai yang sangat berarti hingga bisa mengungguli shalat sendiri beberapa derajat.

Begitu pentingnya shalat berjamaah hingga para ulama terdahulu (salaf) berduka cita selama tiga hari jika tertinggal takbir pertama (takbiratul-ihram) dengan imam. Bahkan meraka akan berduka selama seminggu jika tertinggal shalat berjamaah. Itulah cerminan betapa shalat berjamaah memiliki kadar dan faidah yang sangat bermanfaat bagi mereka-meraka yang sudah merasakan akan kemanfaatannya.

Dalam ibadah haji pun para jemaah dilatih untuk senantiasa shalat secara berjamaah. Apalagi mereka berada di tanah yang dijanjikan memiliki nilai shalatnya paling tinggi, yakni bernilai 100.000 rakaat dibandingkan dengan shalat di masjid yang lain. Itu artinya tawaran yang berikan harus disambut dengan baik terlebih shalat secara berjamaah di Masjidil Haram.

  1. Semangat persatuan dan kesatuan

Wahdah al-Ummah atau persatuan umat banyak tergambar dalam ritual haji. Mulai dari thawaf mengelilingi kabah hingga berkumpul di padang Arafah sangat kentera sebagai cerminan bersatunya umat islam. Pemandangan melihat berjuta-juta manusia merayap dan berjalan melaksanakan ibadah dan ritual yang sama untuk mencapai haji yang mabrur di sisi-Nya.

Namun sebetulnya harus pula diimbangi dengan semangat nilai persatuan selepas meninggalkan tanah suci menuju kampung halamannya untuk saling tolong menolong dan bersatu tanpa memilah orang lain untuk bersatu padu.

  1. Semangat dalam hal kesabaran dan kerelaan

Tidak jarang pula di antara jamaah haji yang melepaskan nyawanya hanya untuk dapat menyempurnakan amalan ibadahnya di tanah haram. Tentu ini sebagai gambaran betapa kesulitan dan kehimpitan hidup harus terus dijalani dengan penuh sabar dan rela (ikhlas) menanggung penderitaan meskipun mengorbankan nyawa. Semangat juang yang dibarengi kesabaran tentu akan menghasilkan upah yang memuaskan dan penuh kepuasan. Meskipun gagal melanda, namun rasa ketenangan dan ketentraman akan meliputinya.

  1. Semangat introspeksi diri dalam memberikan kontribusi pada orang lain dan bangsa

Setiap tanggal 9 Dzulhijjah jemaah haji diwajibkan berkumpul di padang Arafah untuk melaksanakan salah satu rukunnya berupa wukuf di padang gersang berbatu itu. Tentu tanpa rukun ini seorang yang mengerjakan manasik haji tidak memperoleh capaian sebagai haji yang mabrur. Tercermin dalam ritual ini setiap orang yang berada di sana dianjurkan membaca shalawat dan memanjatkan doa-doa pengampunan. Ini sebagai gambaran di akhirat kelak di saat Allah Swt mengumpulkan seluruh manusia di padang mahsyar untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang tengah dikerjakannya.

Di saat berkumpul di padang inilah perlu ada perenungan dan muhasabah diri sejauh mana upaya dan tindakan yang dilakukan untuk memberikan kemanfaatan pada orang lain untuk membangun peradaban manusia. Terlebih bagi jemaah haji Indonesia perlu ada upaya perenungan dalam memberikan kontribusi demi kemajuan bangsa. Jangan sampai justru setelah mengerjakan ibadah haji tindakan korupsi dan kriminalitasnya semakin menjadi. Bukan menurunkan tindakan kriminal, malah memberikan kemadaratan bagi umat yang lebih luas.

Itulah beberapa bekal jemaah haji khususnya jemaah asal Indonesia harus membawa bekal tersebut. Tidak hanya membawa oleh-oleh makanan kurma terbaik, tetapi membawa oleh-oleh yang bernilai dalam membangung dan mengembangkan risalah ajaran Nabi Saw yang sudah mulai dijauhi oleh kaum muslimin sendiri. Mari bangun bangsa sendiri dan bangga menjadi bangsa sendiri. Bukan membanggakan bangunan dan peradaban bangsa lain, tetapi berupaya untuk cinta kepada negeri sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi???

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry