Dari sangat sedikitnya muslim di Korea, yaitu sekitar 100 ribu orang, mayoritasnya adalah muslim asli negara lain. Walaupun porsi imigran dari Indonesia sangat sedikit, yaitu 40 ribu dibanding total 2 juta imigran, namun Indonesia adalah penyumbang penduduk muslim terbanyak. Gaji para TKI tersebut sangat menggiurkan, berkisar 1-3 juta won (10-37 juta rupiah) per bulan, ditambah dengan fasilitas yang sangat lengkap dan layak yang tidak seperti TKI di negara-negara lain. Dengan kesejahteraan sedemikian, tak heran jika para pahlawan  devisa tersebut mampu mendirikan dan mengelola lebih dari 55 Masjid Indonesia yang tersebar di hampir seluruh kota di Korea, sekitar 8 diantaranya sudah menjadi masjid permanen.

Logo beberapa Masjid Indonesia di Korea
Logo beberapa Masjid Indonesia di Korea

Namun berbeda dengan masjid-masjid dari negara lain, Masjid Indonesia terkenal dengan ukhuwah dan kemeriahan komunitasnya. Bila masjid lain hanya memfungsikan masjidnya sebagai tempat ibadah atau dakwah, Masjid Indonesia bisa dibilang sebagai pusat semua kegiatan dan komunitas penduduk Indonesia di area setempat. Mulai dari basecamp komunitas-komunitas dengan semua kegiatannya, melayani para musafir dan penduduk yang menganggur, pusat pelatihan, konsultasi permasalahan sehari-hari, dan masih banyak lagi. Kegiatan ibadah dan dakwah pun pastinya tak ketinggalan, mulai dari kajian rutin, kajian akbar yang mengundang ustad-ustad top atau tokoh lainnya, tahsin-tahfidz, mabit, daulah, bazar/festival, sumbangan ke yang membutuhkan, dan masih banyak lagi.

Beberapa Kegiatan di Masjid-masjid Indonesia Korea

Saya pribadi cukup menikmati kegiatan-kegiatan dari banyak Masjid Indonesia. Kota saya Cheonan berada sekitar 100 km dari Seoul, tapi masih terhubung dengan jaringan subway Seoul. Karena sering ada kegiatan di Seoul saat akhir pekan, saya jadi sering menumpang mabit di Masjid Al Falah Seoul. Setiap malam Ahad, ada mabit berisi rangkaian acara mulai dari tahsin tahfidz, makan malam dan sharing-sharing, tidur (disediakan selimut), tahajud, subuh berjamaah, kajian rutin, dan sarapan. Selalu ada wawasan bermanfaat dan teman baru yang didapat setiap datang ke sana, sekaligus berbonus pahala dan ilmu.

Yang terbesar yaitu Masjid Sirotol Mustaqim di Ansan, kota yang memang paling banyak penduduk Indonesianya hingga restoran dan toko-toko Indonesia tersebar di seluruh area pusat kota Ansan. Jalanan pun dipenuhi orang-orang lalu lalang bercakap dengan bahasa daerah masing-masing, mayoritasnya Jawa. Masjid berlantai 4 tersebut adalah hasil patungan juga dengan warga Bangladesh dan negara-negara lain karena memang peraturan dari pemerintah yaitu setiap kota hanya boleh memiliki maksimal satu masjid permanen, kecuali Seoul yang dibatasi per kecamatan. Namun memang boleh lebih dari satu untuk masjid non-permanen atau sewa, tipikal mayoritas masjid-masjid yang ada sekarang. Satu demi satu Masjid-masjid Indonesia mulai berkembang menjadi masjid permanen dengan strategi yang sama. Bahkan Masjid Indonesia Seoul memiliki visi untuk menambah variasi kiblat Islamic Center, yang selama ini hanya satu saja di Korea yaitu Itaewon, dengan membangun masjid dan Islamic center megah di lokasi strategis pusat kota Seoul.

Dari kiri: Masjid Al Falah – Yeongdeungpo Seoul, Masjid Sirotol Mustaqim – Ansan, dan target Masjid Indonesia Seoul

Pengalaman saya berpartisipasi dalam mendirikan Masjid Indonesia baru di kota saya Cheonan bernama masjid At-Taqwa cukup berkesan bagi saya. Kawan-kawan Cheonan mampu mengumpulkan dana 40 juta won (500 juta rupiah) dalam sebulan, kemudian menyewa bangunan utuh, gotong royong merenovasi, dan membentuk kepengurusan dalam bulan berikutnya. Masjid pun selalu ramai dikunjungi bukan hanya untuk ibadah tapi lebih menjadi tempat berkumpul dan bersua. Betapa ghirah masyarakat muslim Indonesia begitu besar hingga dengin izin Allah SWT begitu mudahnya mendirikan dan memakmurkan masjid.

Sesama perantau pasti memiliki rasa saling memiliki, semua orang pun tanpa sadar menjadi ringan tangan, dan masjid lah yang menjadi pemersatu WNI di Korea ini. Harapannya dengan semakin banyaknya masjid-masjid di Korea, ukhuwah semakin erat dan semakin banyak yang saling bantu, kebermanfaatan pun dirasakan bukan hanya WNI tapi juga masyarakat lain dan sekitar. Dan semoga pula ikhtiar bersama kita ini menjadi bagian dari sejarah merbaknya Islam di tanah Korea. Yuk sering datang dan ikut kegiatan masjid!

Gifari Zulkarnaen
Pelatihan Bahasa, Sun Moon University, 2018

Leave a Reply