Semester ini adalah semester pertamaku di Korea Selatan, namun banyak hal yang sepatutnya kusyukuri. Terkenal dengan kehidupan penduduknya yang tidak begitu religius, tentu kupikir awalnya akses untuk menikmati indahnya Islam tidak akan mudah dirasakan. Alhamdulillah kehendak Allah berkata lain, di sini aku ditakdirkan untuk bertemu saudara-saudara yang saling mengingatkan menuju kebaikan di komunitas mahasiswa Indonesia di kampus oleh PNU FOKIS dan komunitas muslim Indonesia di PUMITA Busan.

Secara ajaib dan selamat, kakiku menjejak di beberapa titik masjid/musala di negeri ginseng yang tersebar berkat rekan-rekan di PUMITA, salah satunya untuk mencapai pengajian di Gimpo (dari Busan beranjak nyaris ke perbatasan ke Korea Utara) ketika Cuseok 2017 dan sempat singgah di musala di daerah Ansan. Di berbagai kesempatan itu, tidak hanya tubuh yang berekreasi tetapi juga hati. Dalam hati, aku juga kagum dan terharu melihat semangat saudara-saudara muslim Indonesia di sini berusaha menjalankan agama dengan baik hingga didirikannya masjid di berbagai lokasi untuk menunjang kegiatan ibadah masyarakat. Memang saya kurang pandai berbicara dan menjalin perkenalan dengan orang baru, namun setidaknya ketika memandang wajah-wajah beliau, tidak mengejutkan kalau tersirat doa agar beliau-beliau selalu dalam kesehatan dan istiqomah untuk beribadah.

Setiap Sabtu kusempatkan diri untuk singgah dan menginap di masjid Al-Fatah, Dusil, mengusahakan untuk bisa salat Isya berjamaah jika terkejar. Tidak jarang aku mendapatkan kesempatan untuk pergi, menumpang kendaraan PUMITA dengan segala ketegangan perjalanannya, ke beberapa musala untuk mendengarkan tausyiah Ustadz Syaikhoni ke komunitas muslim Indonesia lain di sekitar Busan. Meskipun tausyiah tersebut kadang memakan waktu hingga pukul 11 malam, ada bonus makanan Indonesia yang dihidangkan untuk para tamu (tambahan motivasi sebenarnya). Sebenarnya, niatku untuk menginap tidak lain adalah hanya untuk memudahkan salat Subuh berjamaah di masjid pada hari minggunya. Tujuan tersebut saya dapatkan dari inspirasi berbagai riwayat mengenai kemuliaan salat subuh berjamaah.

Jarak dari asrama kampus tempat tinggalku ke masjid Dusil terhitung cukup dekat, tetapi naik kereta metro yang berjarak 2 stasiun dan belum lagi harus turun gunung dari gedung asrama, lumayan sulit jika dilaksanakan ketika hari-hari yang bukan akhir pekan atau libur (ampuni hamba, ya Allah). Ya sejelek-jeleknya tinggal di Korea sini, ingin sebisa mungkin aku ingin memperbaiki diri dan menabung amalan-amalan baik untuk bekal di akhirat kelak, salah satu usahanya mencoba menambal salat-salat berjamaah di masjid.

Perjalanan mendadak setelah subuh ke pantai Gwangali (sumber: dokumentasi pribadi)
Gambar 1: Perjalanan mendadak setelah subuh ke pantai Gwangali (sumber: dokumentasi pribadi)

Dalam perjalanan menegangkan ala PUMITA di mobil, terkadang tercerita kisah-kisah beberapa pekerja Indonesia yang terlebih dahulu pamit dari dunia. Topik tersebut bisa muncul begitu saja sebab dialog kadang-kadang beralih ke kabar duka dari para rekan pekerja di laut, yang memang memiliki risiko tinggi, atau berkoordinasi untuk mengurus pengkafanan dan salat jenasah. Tentu ini bukan pengalaman yang langsung kurasakan tetapi pikiranku terbayang menuju keluarga beliau yang ditinggalkan dan juga refleksi terhadap diri sendiri. Banyak hal tampak di pikiranku mengenai ayah dan ibu, bagaimana keluarga saya yang lain, bagaimana harta saya bisa bermanfaat dan sampai di tangan yang tepat, bagaimana di alam kubur nanti, apakah bekalku sudah cukup untuk ke akhirat, apakah memang amal-amalku diridhoi Allah.

Di samping jalan-jalan dengan misi religius, jalan-jalan dengan misi “jalan-jalan” saja juga pernah kualami. Pernah tiba-tiba dengan niat salat asar berjamaah begitu saja datang ke masjid, aku diajak ikut ke kuil Beomosa, hunting foto katanya. Alasan dalam hatiku untuk mengerjakan berkas presentasi kalah dengan godaan wisata itu, alhasil warna oranye-merah daun-daun khas musim gugur di Beomosa itu mewarnai hari minggu (berujung ternyata presentasi itu terlengkapi dengan baik di kemudian hari, Alhamdulillah). Selain Beomosa, jalan-jalan dadakan setelah subuh ke pantai Gwangali juga terlaksana, menikmati dinginnya pagi hari di satu minggu sebelum tahun baru.

Perjalananku menempuh babak baru studi pascasarjana ini memang baru saja dimulai, bertemu orang baru dan lain sebagainya. Sekali lagi syukur dan segala puji bagi Allah karena kenyamanan bisa hadir dengan cepat dan mampu beradaptasi dengan atmosfer budaya Korea. Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah dan selalu berdoa untuk ridha Allah.

Aaamiiin.

Hani Ramadhan,
Big Data, Pusan National University, 2018

Leave a Reply