#Notula Kajian Online IMUSKA Edisi II

ustadz-yayat

Rabu, 23 November 2016, jam 20.20-21.00 WKS.

Pembicara : Ust. Yayat Sudrajat, S. Pdi (DaI PKPU Korea Selatan)

Tema : Fiqih Muamalah Bab Zakat

Moderator : Sdr. Phisca Aditya Rosyady

Tilawah : Q.S. Al-Baqarah ayat 1-5, dibawakan oleh Sdr. Phisca Aditya Rosyady

Ringkasan Materi :

Fiqih muamalah merupakan salah satu bagian dari hukum islam yang mengatur hubungan antar manusia. Pembahasan fiqih muamalah sangatlah luas, mulai dari hukum pernikahan, transaksi jual beli, zakat dan sebagainya. Dalam kesempatan kali ini kita akan fokus untuk membahas zakat.

Terkait dengan zakat, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya Islam dibangun atas lima pilar : 1. persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, 2. mendirikan shalat, 3. Mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan HR. Bukhari dan Muslim. Dalam hal ini zakat adalah salah satu pondasi islam yang sangat penting yang harus kita tegakkan. Kalaulah shalat itu adalah sarana kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT (Hablumminallah), maka zakat adalah salah satu sarana bagi kita untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia (Hablumminnas). Kemudian mengapa harus berzakat? Allah SWT berfirman dalam QS. At Taubah ayat 103 yang artinya : Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk berzakat yang salah satu tujuannya adalah untuk membersihkan harta dan jiwa kita, karena sesungguhkan tidak semua harta yang kita miliki adalah untuk kita, ada hak-hak orang lain di dalamnya yang harus kita tunaikan dengan berzakat, kalau tidak maka harta kita menjadi kotor dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Selain itu zakat juga bertujuan untuk memberikan solusi terhadap salah satu permasalahan serius negeri ini, yaitu kemiskinan. Ya..ini adalah permasalahan yang sangat serius, karena dari kemiskinan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif lainnya seperti pengangguran, kejahatan, krisis moral dan lain sebagainya. Untuk itu permasalahan kemiskinan ini harus segera disolusikan, dan islam sebagai agama yang syumul (menyeluruh) memberikan salah satu solusi yang sangat baik, yaitu dengan zakat. Jika kita coba menerawang sejarah peradaban islam belasan abad yang lalu, pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis. Saat itu masyarakatnya hidup dengan sejahtera, tidak ada seorangpun umat islam yang layak menerima zakat (mustahiq), semuanya mampu dan mengeluarkan zakat, sehingga peradaban islam saat itu sangatlah maju. Sebaliknya di Indonesia saat ini lebih mudah menemukan mustahiq dibandingkan muzakki (pemberi zakat). Dalam hal ini walaupun sudah ada lembaga zakat, pengelolaannya pun harus dilakukan dengan baik dan professional. Salah satunya adalah dengan adanya upaya untuk melakukan transformasi mustahiq ke muzakki. Bagaimana caranya ? Salah satu contohnya adalah dengan memberikan harta zakat kepada mustahiq dalam bentuk dana usaha yang didampingi oleh mentor-mentor bisnis yang profesional. Sehingga harta tersebut tidak berhenti begitu saja di tangan mustahiq, akan tetapi dapat digunakan sebagai modal bisnis yang kalau sukses nantinya bisa menjadi seorang muzakki. Kemudian muzakki tersebut harus berzakat dan mengamalkan ilmunya kepada mustahiq lain untuk menjadikannya sukses juga dan seperti itu seterusnya, bagaikan gumpalan bola salju yang terus menerus membesar. Dengan ini secara perlahan kemiskinan di tengah-tengah masyarakat akan tersolusikan. slowly but surely.

Kemudian dalam berzakat, harta yang wajib dizakatkan adalah harta kepemilikan sendiri, berkembang (harta yang memberi keuntungan pada pemiliknya), mencapai nisab (batas minimal harta dalam berzakat), dan mencapai haul (masa tenggang harta dalam berzakat). Secara garis besar zakat terbagi menjadi 2 bagian, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Ada beberapa jenis zakat mal yang telah disepakati para ulama terdahulu, yaitu : zakat perhiasan (emas dan perak), perdagangan, pertanian, peternakan dan rikaz (barang temuan). Kemudian dalam rangka penyesuaian terhadap kondisi umat islam saat ini, terdapat beberapa jenis zakat kontemporer, seperti : zakat profesi, investasi, tabungan, reksa dana, hadiah dan sebagainya. Berikut beberapa contoh cara perhitungan zakat mal yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari :

  1. Zakat perhiasan (emas dan perak). Nisabnya 85 gram emas dengan haul 1 tahun (lebih ahsan menggunakan kalender Hijriah sebagai patokan). Zakatnya 2.5% dengan syarat : emas yang tidak dipakai atau didiamkan. Zakatnya bisa ditukarkan dengan uang sesuai harga emas saat itu.
  2. Zakat perdagangan. Nisabnya seharga 85 gram emas dengan haul 1 tahun. Zakatnya 2.5% yang diambil dari keuntungan bersih setelah dikurangi biaya-biaya pengeluaran.
  3. Zakat pertanian. Nisabnya 5 wasaq atau 653 kg beras tanpa haul (dizakatkan saat panen). Zakatnya 5% untuk pertanian yang memerlukan biaya rawat (pengairan, pupuk dan sebagainya) dan 10% untuk pertanian yang tidak memerlukan biaya rawat.
  4. Zakat penghasilan atau profesi. Walaupun terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama (khilafiyah), BAZNAS membolehkannya dengan nisab seharga 653 kg beras dan zakat yang harus dikeluarkan sebesar 2.5%.
  5. Zakat investasi. Perhitungannya dianalogikan kepada zakat pertanian. Misalkan mempunyai rumah kontrakan. Jika ada biaya perawatan zakatnya 5%, jika tidak ada biaya perawatan zakatnya 10%.
  6. Zakat tabungan. Perhitungannya dianalogikan kepada zakat perhiasan. Nisabnya seharga 85 kg emas dengan haul 1 tahun dan zakatnya 2.5%.

Kemudian mengenai hukum zakat para ulama sepakat bahwa zakat hukumnya wajib. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 34-35 yang artinya : Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih (34). (ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan(35). Ayat tersebut menerangkan dengan jelas ancaman yang Allah berikan bagi orang yang enggan membayar zakat, yaitu mereka akan dihukum dengan disetrika dahi, lambung dan punggungnya oleh emas dan perak yang dipanaskan di neraka jahanam. Naudzubillahimindzaaliksemoga kita semua dilindungi dan dijauhkan dari hal tersebut. Untuk itu marilah kita sama-sama membangun kesadaran diri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita untuk berzakat dan juga senantiasa memperhatikan dan mengatur harta kita dengan baik. Dari mana harta tersebut didapatkan? dengan cara apa? bagaimana kita menggunakannya? Dan sudahkah terpenuhi hak-hak orang lain yang ada di harta kita? Karena sesungguhnya semuanya itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Wallahualam.

* Untuk penjelasan dan perhitungan zakat lainnya dapat didownload dan dipelajari dari Buku Panduan Zakat berikut : https://drive.google.com/open?id=0By6U54sEN3t7b0FqSklVUnRMYms.

 

Rekaman video bisa diakses kembali melaluihttps://www.facebook.com/imuska.org/videos/1485707814791711/

 

Oleh : Fuad Azminudin (Bidang Dakwah IMUSKA/ MahasiswaJurusan Integrated Ocean Science di University of Science and Technology)