#Notula Kajian Online IMUSKA Edisi IV

Rabu, 7 Desember 2016, jam 20.00-21.00 WKS.

Pembicara : Ust. Yayat Sudrajat, S. Pdi (DaI PKPU Korea Selatan)

Tema : Membangun Keluarga SAMAWA di Perantauan

Moderator : Sdr. Adam Febriyanto Nugraha

Ringkasan Materi :

Pernikahan adalah salah satu syariat islam yang sangat penting. Allah SWT berfirman di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 1 :Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. Berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk memperkembangbiakkan atau melestarikan keturunan manusia. Hal ini sangat penting karena saat ini telah banyak terjadi berbagai penyimpangan di tengah-tengah masyarakat seperti LGBT yang dapat menghambat perkembangbiakan dan keberlangsungan hidup manusia kedepannya.

 

samawa

Mungkin pada umumnya pemuda-pemudi yang belum menikah beranggapan bahwa menjalani hidup bersama suami/istri paska-pernikahan itu akan terasa lebih indah dan ringan. Hal itu tidak sepenuhnya benar, karena sesungguhnya kehidupan di dalam bahtera rumah tangga pun ujian dan cobaannya banyak sekali, dinamikanya sangat luar biasa. Mungkin akan ada banyak hal yang membuat ikatan rumah tangga melemah. Seperti permasalahan finansial, perilaku atau kebiasaan sehari-hari suami/istri yang mungkin dapat mengganggu pasangannya, perbedaan pendapat dan cara pandang terhadap suatu masalah, dan lain sebagainya. Sesungguhnya hal-hal yang demikian itu sangat manusiawi dan sering terjadi, karena tidak ada manusia yang sempurna, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Dalam hal ini, yang pertama-tama perlu kita perhatikan adalah mengenai niat pernikahan itu sendiri. Apa niat kita dalam menikah? apakah hanya untuk melampiaskan hawa nafsu? karena kecantikan/ ketampanan, kekayaan, kesuksesan pasangannya? Sesungguhnya kalau pernikahan diniatkan hanya karena perkara duniawi semata, maka lambat laun kita akan dikecewakan olehnya. Karena kecantikan/ketampanan akan luntur dimakan waktu, serta kekayaan dan jabatan juga akan dipergilirkan. Untuk itu niat yang harus ditanamkan dalam pernikahan adalah niat karena Allah, untuk beribadah dan mendapatkan keridoan Allah SWT. Serta cinta kita kepada pasangan kita harus dilandaskan karena kecintaan kita kepada Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah : 24). Oleh karena itu, niat yang lurus karena Allah adalah salah satu hal mendasar yang sangat penting dalam pernikahan dan dalam menjalankan kehidupan berumah tangga.

Kemudian selain niat yang lurus, hal yang juga sangat penting dalam sebuah pernikahan adalah bekal ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Seperti yang disebutkan dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 1 sebelumnya, Allah menegaskan pentingkan ketaqwaan dalam memelihara hubungan keluarga. Ketika kita sudah meluruskan niat dan bertakwa kepada Allah SWT, kita tidak akan takut dengan urusan dunia, tidak takut dengan masalah harta. Fenoma yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah kita baru siap menikah kalau sudah mempunyai harta dan berkecukupan untuk hidup bersama nantinya. Padahal Allah SWT menegaskan dalam Al Quran surat An-Nur ayat 32 : Dan nikahlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. Jadi logikanya bukan kaya baru menikah, tapi menikahlah (walaupun pas-pasan) maka Allah yang akan memberi kecukupan kepada kita, InsyaAllah.

Selain melakukan pernikahan, tentunya kita juga mendambakan dan berusaha supaya kita dapat menggapai keluarga yang bahagia sakinah mawaddah warahmah (SAMAWA). Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ar-Rum ayat 21 : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram (Litaskunuu) kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (Mawaddata) dan sayang (Warahmah). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. Secara Bahasa makna sakinah adalah ketentraman, kedamian, aman. Jadi seorang suami dan istri harus mampu membuat pasangannya merasa tentram, damai dan aman dalam menjalani kehidupan bersama supaya rumah tangga bisa langgeng. Sakinah ini yang menurunkannya adalah Allah SWT. Maka ketika menikah karena Allah dan berlandaskan ketakwaan maka kita akan diberi ketenangan. Seperti doa dalam QS. Al Furqon ayat 74 yang sering kita lantunkan : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Kemudian kata Mawaddah dapat diartikan sebagai kecintaan yang timbul karena fisik, misalkan cinta terhadap kecantikan/ketampanan, kekayaan dan sebagainya. Rasa cinta ini sudah fitrahnya manusia (normal). Sedangkan Warahmah (Rahmah) diartikan sebagai rasa cinta yang timbul karena non-fisik, Misalkan kecintaan melihat istri yang shaleh, akhlaknya baik, jujur, rajin shalat dan sebagainya.

Menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak ujian dan cobaan yang dapat menimpa rumah tangga. Ujian itu datang dari mana saja dan dalam bentuk apa saja. Tanpa terkecuali bagi rekan-rekan kita yang sedang berada di perantauan di Negeri Ginseng. Banyak pasangan-pasangan muda yang rela meninggal suami/istri-nya di Indonesia untuk bekerja atau kuliah di Korea Selatan beberapa saat, Long Distance Relationship (LDR), yang tentunya tidak mudah. Kemudian ada juga yang hidup bersama sekeluarga di perantauan yang jauh dari keluarga besar dengan kondisi finansial yang mungkin sederhana bahkan pas-pasan untuk hidup sehari. Perlu kita sadari bahwa setiap rumah tangga pasti mempunyai ujian dan tantangannya masing-masing, dan semuanya itu pasti masih dalam batas kemampuan kita, tinggal bagaimana kita dapat menyikapinya dengan baik dan benar. Berikut beberapa tips / ikhtiar yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan keluarga SAMAWA :

  1. Taaruf (saling mengenal lebih dalam). Hal ini sangat penting dilakukan sebelum menjalankan kehidupan rumah tangga. Dalam hal ini kita tidak bisa berfikir ideal terhadap pasangan kita (tahu kebaikannya saja), kita juga harus mengenal keburukan-keburukannya, supaya bisa saling menyiapkan sebelum menikah.
  2. Tafahum (saling memahami), kalau pasangan kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita harus mencoba saling memahami untuk melakukan manajemen konflik. Saling memahami dan menahan amarah adalah kunci yang sangat penting ketika terjadi permasalahan dalam rumah tangga.
  3. Taawun (saling bekerja sama). Pekerjaan rumah tangga bukanlah hal yang mudah, perlu adanya kerja sama dalam menyelesaikannya. Misalkan dengan pembuatan jadwal kerja dan pembagian tugas.
  4. Saling menanggung beban. Tentunya selain taaruf, tafahum dan taawun, suami-istri juga harus mau saling menanggung beban, seperti 2 sayap burung yang saling melengkapi dan saling mengisi. Kalau salah satunya saja tidak mau terbebani, maka burung tersebut akan jatuh seluruhnya.

Kemudian selain mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah warrahmah, hendaknya sebuah keluarga juga mempunyai target, goal atau visi kedepannya, baik visi duniawi maupun ukhrawi. Misalkan mempunyai visi menjadi keluarga yang mengutamakan akhlakul karimah (kejujuran, integritas, kesopanan dsb.), penghafal Al Quran (Hafidz/Hafidzah), pengusaha, cendikiawan dan lain sebagainya. Marilah kita sama-sama berusaha untuk meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar kita dalam membangun rumah tangga. Semoga kita semua dapat menggapai keluarga sakinah mawaddah warahmah dan juga keluarga pembangun generasi emas di masa yang akan datang. Amiin !

Wallahualam!

Rekaman video bisa diakses kembali melalui https://www.facebook.com/imuska.org/videos/1502488676446958/

Oleh : Fuad Azminudin (Bidang Dakwah IMUSKA/ MahasiswaJurusan Integrated Ocean Science di University of Science and Technology)