“ Orang-orang Korea itu suka dengan Islamnya orang Indonesia”

Ujar Presiden Korean Muslim Federation (KMF) kepada Dubes RI untuk Indonesia, Bapak Umar Hadi.

***

Menurut data KBRI menjelang tahun 2017 silam, jumlah warga negara Indonesia di Korea Selatan mencapai 40.666 jiwa. Mereka terdiri dari Buruh Migran Indonesia (BMI), Pelajar dan Mahasiswa, dan lainnya. Di zaman now, Korea memang termasyhur dengan dunia k-popnya yang mewabah di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Banyak kaum muda yang seolah terhipnotis dengan pesona artis-artis korea melalui boyband, girlband atau drama koreanya. Namun tak hanya itu saja, negara yang merupakan bagian dari sejarah Dinasti Goeryo itu menjadi syurga bagi para pencari ilmu dan pencari kepingan won.

Bukan tanpa alasan, Korea menjadi tujuan bagi para pelajar dan mahasiswa. Bahkan kalau berbicara tenaga asing di sini, Indonesia menempati peringkat ketiga setelah Vietnam dan Kamboja yakni di angka 38 ribuan. Perkembangan teknologi dan geliat riset yang memang sedang tinggi-tingginya didukung pula dengan support totalitasdari pemerintah ataupun industri. Dari situlah kemudian negeri dengan kecepatan internet tertinggi di dunia ini menjadikan riset sebagai penyokong utama majunya teknologi disini. Setiap warga Korea memiliki semangat untuk menjadi pribadi yang unggul. Jika tidak jadi manusia yang unggul, mereka akan mati. Itulah prinsip yang dipegang bangsa Korea Selatan yang miskin sumber daya alam dan secara geopolitik dikepung empat kekuatan besar: Tiongkok, Rusia, Korea Utara, dan Jepang. Pun juga Korea menjadi syurganya bagi para buruh migran kita. Bagaimana tidak? Kata Dubes sebelumnya, John A Prasetio dalam sebuah media mengatakan bahwa tidak ada TKI yang lebih mujur dibandingkan TKI di Negeri Ginseng. Mereka disamakan secara hukum dengan pekerja setempat, baik gaji maupun fasilitas lainnya. Itulah keuntungan pengiriman TKI dalam skema G-to-G.  Dengan iming-iming gaji kisaran Rp 14,5 juta per-bulan. Kalau ditambah lembur mereka bisa mengantongi hingga Rp 30 juta. Menggiurkan, bukan?

Aktivisme dan Kolaborasi WNI di Korea

Namun para WNI tak hanya berpuas diri hanya sibuk bekerja dan berkuliah semata. Saya sebagai pelajar di sini menyaksikan betul banyaknya kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan WNI diluar jam kerja mereka. Mulai dari agenda seni dan kebudayaan, agenda paguyuban, agenda keagamaan hingga agenda pelatihan-pelatihan kewirausahaan dan softskill. Bahkan bisa dikatakan hampir tiap minggu selalu ada jadwal kegiatan. Entah diselenggarakan di KBRI atau di Masjid, entah di Kota Seoul, Daejeon, Daegu ataupun di kota-kota lainnya. Seluruh elemen WNI mulai dari KBRI dan berbagai stakeholdernya bersatu padu berkolaborasi bersama. Ada yang dari Paguyuban-paguyuban kedaerahan, ada yang dari organisasi keagamaan seperti dari masjid, gereja dan lainnya, kalangan mahasiswa dengan PPI Korea / Perpikanya. Hingga yang juga tak kalah menarik kolaborasi antara mahasiswa dan pekerja di sini dalam sebuah lembaga pendidikan di Universitas Terbuka Korea Selatan. Bahkan akhir tahun 2017 kemarin kawan-kawan WNI di Gyeongju menggelar Tablligh Akbar bersama Ustadz Adi Hidayat dan tak sedikit diantara panitiannya adalah kawan-kawan dari Non Muslim. Insya Allah seluruh elemen WNI di sini saling berkolaborasi untuk bisa saling membantu, tanpa melihat latar belakang kedaerahan, agama, suku, dan lainnya. Semua satu, Bangsa Indonesia. Dari merekalah, saya belajar banyak memaknai persatuan dalam kebhinekaan.

49 Masjid dan Geliat Dakwah Muslim Indonesia

Hari demi hari, tahun demi tahun, jumlah populasi Muslim di Negeri Ginseng terus bertambah. Data mutakhir menyebutkan, jumlah populasi Muslim di Korea Selatan mencapai 145 ribu-160 ribu orang. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 50 ribu di antaranya adalah penduduk asli Korea. Sedangkan, sisanya merupakan pendatang dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah.

Dari data KBRI menjelang tahun 2017 lalu disebutkan bahwa ada 40-an ribu Warga Negara Indonesia di Korea dan bisa dikatakan mayoritas diantaranya adalah seorang muslim. Sejauh pengamatan saya selama tinggal di Korea dalam 3 tahun terakhir ini, boleh dikatakan aktivitas kegiatan WNI di korea ini memang cukup tinggi. Karakter masyakarat Indonesia yang memang suka kumpul-kumpul tetap mentradisi meskipun mereka tinggal di perantauan. Semangat bersosial dan peduli terhadap sesama WNI lainnya menjadikan mereka suka berkumpul, memecahkan masalah bersama, dan saling berbagi dan bersinergi. Pun sebagai masyakarat muslim yang berada di negara yang notabene belum mengenal Islam tak menjadikan mereka putus asa, namun justru melecut mereka untuk lebih semangat. Keterbatasan adanya masjid atau tempat ibadah tak menjadikan mereka hanya berpasrah dan berdiam diri. Mereka kemudian berpikir dan berihtiar dengan membuat forum-forum kecil seperti pengajian, yasinan, dan tadarusan mungkin awalnya hanya bertempat di기숙사Kisuksa atau kontrakan salah seorang WNI. Dari minggu ke minggu digilir tempatnya hingga lama kelamaan mereka merasa nyaman untuk terus berkumpul dalam setiap pekannya. Sekedar untuk jamaah sholat bersama,  tadarus bersama hingga berbincang soal keluh kesah mereka ditempat kerja masing-masing untuk bersama dicarikan solusinya. Kemudian dari satu orang biasannya mengajak kawan-kawannya di pabrik, sesame daerahnya ataupun kerabatnya untuk juga ikut kumpul-kumpul. Hingga suatu ketika mereka berpikir untuk mencari tempat yang lebih kondusif dan luas lagi. Dari sinilah wacana mendirikan masjid Indonesia itu bermula, meskipun memang masih bersifat remanen atau sementara.

Mencari tempat sewa untuk mendirikan masjid bukan perkara yang mudah, inilah tantangan selanjutnya bagi WNI disini. Mulai dari system sewa di korea yang menggunakan보증금deposit dengan angka yang fantastis (mulai dari 50 juta rupiah –  100 jutaan rupiah lebih bergantung lokasinya) hingga soal pemilik dan masyakarat di sekitar gedung itu apakah mengizinkan adanya kegiatan-kegiatan keislaman di gedung tersebut. Dengan semangat untuk memiliki sebuah masjid, para WNI patungan untuk mengumpulkan dana sebagai depositnya. Dari menyisihkan uang gajinya sampai door to door mengajak WNI lainnya untuk ikut patungan. Panitia pembangunan masjid biasanya keliling dari kisuksa ke kisuksa, dari Warung Indonesia, ke Warung Indonesia, dari Paguyuban ke Paguyuban sampai akhirnya cukup terkumpul dana untuk deposit penyewaan gedung untuk masjid itu. Biasanya setelah masjid itu berdiri memang banyak yang kemudian berdatangan di setiap akhir pekannya untuk mengikuti rangkaian mabit (menginap) dari sabtu sore hingga ahad siangnya, mulai dari tadarus, pengajian, dan yang menjadi daya tarik adalah bisa makan masakan Indonesia bareng-bareng. Mereka kemudian membentuk sebuah dewan kemakmuran masjid yang kemudian mengelola kegiatan dan seluruh aktivitas di masjid tersebut.

Hingga saat ini menurut Presiden Komunitas Muslim Indonesia, Gangsar Hernanto tercatat ada 49 Masjid Indonesia yang sudah berdiri di Korea, dengan 5 diantaranya sudah sebagai masjid permanen atau memiliki hak kepemilikan bangunan. 5 diantaranya adalah Masjid Sirothol Mustaqim Ansan, Masjid Al Amien Daegu, Masjid Al Huda Gumi, Masjid Sayidina Bilal di Changwon, dan Masjid Al Barokah Gimhae. Sedangkan 44 masjid yang ada masih dengan status sewa bangunan.

Semakin banyaknya masjid-masjid Indonesia di Korea Selatan diikuti dengan semakin gregetnya ghiroh dakwah Muslimin Indonesia di sini. Bisa dikatakan setiap pekan mereka memiliki agenda rutin  yang dimakmurkan oleh kawan-kawan WNI baik mahasiswa maupun pekerja yang berada di kawasan tersebut. Tak hanya itu saja yang mungkin masih ekseklusif didalam masjid kegiatannya. Namun mereka sudah tidak ragu lagi  menunjukkan dakwahnya atau kalau dalam konteks dakwah risalah nabi yakni dakwah yang terang-terangan. Ini bisa kita lihat di kegiatan jumatan di beberapa masjid seperti masjid Ansan yang kadang karena masjid yang tidak mencukupi untuk jumatan, mereka menggelar di area taman dekat masjid. Juga mungkin hampir setiap masjid pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha selalu menggelar sholat id di outdoor atau kawasan terbuka seperti taman, tempat parkir, hingga kalau di Daejeon itu pernah di gelar di kawasan luas tepian sungai.  Tentu ini menjadi pemandangan yang tak biasa bagi masyarakat local, warga Korea. Sehingga tak sedikit dari mereka yang kemudian menonton ritual keagamaan kita dan menjadi perbincangan dikalangan mereka. Lalu diantara mereka kemudian tanya-tanya tentang apa yang kita lakukan, disinilah celah kita untuk mengenalkan Islam kepada mereka. Yup, tentunya Bahasa menjadi kunci untuk menyampaikannya. Sehingga ada baiknya kita juga bisa Bahasa Korea atau paling tidak Bahasa Inggris sehingga sewaktu-waktu kalau ada pertanyaan tentang Islam, kita bisa menanggapinya.

Tak hanya kegiatan ritual keagamaan saja yang mereka umbar kepada masyakarat Korea. Saya pernah bersilaturahim ke masjid Darussalam Baran, setelah kajian ahad pagi disana seluruh jamaah diperintahkan untuk bersama-sama kerja bakti bersih-bersih lingkungan masjid, termasuk jalan-jalan di dekat pasar sekitar masjid. Dengan masih berpakaian baju taqwa, memakai sarung dan kopyah pasukan jamaah itu membersihkan setiap senti tanah dan jalan yang terdapat sampahnya hingga kemudian bersih. MasyaAllah saya pun tertegun melihatnya. Salah satu jamaah pun bercerita bahwa warga korea yang berjualan di sekitar masjid bahkan kadang memberi buah yang dijualnya dengan Cuma-Cuma ke jamaah karena mereka sudah simpatik dengan apa yang dikerjakan jamaah disana.

Saya juga pernah melihat dakwah yang lain yang dikerjakan kawan-kawan jamaah masjid Al Muhajirin Pyeongtaek. Di dalam suatu kesempatan festival budaya di kawasan Pyeongtaek, Jamaah Masjid Pyeongtaek ikut andil tampil disana, yakni dengan hadroh khas dengan balutan Islamnya. Memakai kopyah, sarung kemudian melantunkan sholawat kepada kanjeng nabi ditengah-tengah keramaian masyakarat Korea. Riuh gemuruh para hadirin yang menonton membuktikan bahwa mereka tertarik dan ingin tahu kebudayaan Islam itu sendiri, Islam yang dengan budaya Indonesia.

Belum lagi kalau kita bicara dakwah secara personal masing-masing WNI disini. Saya sering berbicang dengan kawan-kawan BMI disini, banyak diantara mereka harus berusaha lebih untuk bisa sholat wajib 5 waktu dan bagi yang putra untuk bisa berjamaah sholat jumat. Tak sedikit dari mereka bercerita kalau awalnya tidak diberi izin namun kemudian diberi izin karena mereka melakukan hal-hal berikut. Kawan-kawan BMI bekerja dengan sangat profesional, menunjukkan bahwa seorang Muslim itu pekerjaannya baik, tepat waktu, tanggap dan cepat menyesuaikan diri. Itu dilakukan dengan terus menerus dan tentunya sopan kepada rekan kerja, terlebih sajangnim atau bos kita. Kalau sudah begitu, sajangnim kita akan respect dan simpati kepada kita kemudian mereka akan mengizinkan kalau kita minta waktu untuk sekedar sholat wajib, pun juga untuk waktu istirahat siang yang lebih panjang pada hari Jumat. Pun juga untuk kawan-kawan mahasiswa di sini, dengan profesionalitas dan sopan santun, banyak di antara mereka yang kemudian diberi kemudahan dalam beribadah.

Dakwah-dakwah Islam ala Indonesia seperti itulah yang kemudian membuat tak sedikit warga Korea yang kemudian simpati dengan kita. Bahkan Presiden Korean Muslim Federation mengatakan bahwa orang korea itu suka dengan dakwah Islamnya orang Indonesia. Jadi tak sedikit yang kemudian mereka memberikan berbagai kemudahan dan izin untuk bertoleransi untuk beribadah bahkan untuk izin pergi ke tanah suci untuk haji. Dakwah dengan profesionalitas kita dalam bekerja, dakwah dengan santun dan lembut tingkah laku kita saat berinteraksi dan dakwah dengan cara yang menggembirakan. Semoga kita bisa menjadi agen muslim yang baik, dengan dakwah yang menggembirakan, dakwah yang memberikan pencerahan. Serta semoga kehadiran muslimin Indonesia di Korea menjadi asbab hidayah warga Korea Selatan mengenal Islam. Insya Allah…

Wallahua’lam bishowab!

Nurina Umy Habibah
Mahasiswi Master Degree di Hallym University

Leave a Reply