Harus saya akui bahwa bayangan saya terhadap kehidupan di Korea yang banyak dipotret dan disuguhkan melalui film, drama, dan reality show-nya yang booming di tanah air sedikit berbeda dari kenyataan yang saya alami. Bahkan, sampai artikel ini saya tuliskan pun, pengalaman yang akan saya ceritakan ini masih berdampak terhadap pola pikir, cara pandang dan cara saya menentukan sikap selama tinggal disini.

Semangat saya untuk mencari tahu budaya Korea, mempelajari bahasa Korea, dan bahkan menikmati Korea sembari menuntut ilmu benar-benar hilang dua minggu setelah menginjakkan kaki di negara gingseng ini. Dari yang tadinya memiliki ekspekstasi tinggi tentang eksplorasi eksplorasi liar di negara ini, berubah hanya ingin cepat dan harus cepat menyelesaikan kuliah disini. Untungnya pikiran negatif ini tidak terus melekat, dan perlahan lahan mindset ini berubah seiring dengan berjalannya waktu, bertambahnya teman, dan bertambahnya pengalaman hidup di Korea. Dan saya berharap mindset ini juga akan digantikan dengan banyak hal positif lainnya kedepannya, Mengingat saya baru memasuki bulan kelima disini.

Hidup di Korea sungguh membuka cara pandang lain saya terhadap Indonesia. Terlepas dari banyaknya PR yang masih harus dibenahi di negera kita, boleh dibilang saya semakin mengagumi ibu pertiwi. Bukan hanya karena keindahan alam yang ditawarkan tapi dari aspek kehidupan yang sebelumnya tak pernah saya sadari.

Tinggal di Indonesia itu enak loh..!!! Coba deh, kita keluarin dulu dari list kehidupan ber-Indonesia kita mengenai macetnya jalan-jalan metropolitan, ataupun cuacanya yang panas sepanjang tahun yang menurut pengakuan beberapa teman wanita saya, membuat mereka tak bebas berdandan. Saking panasnya, make up mereka gak pernah bertahan lama karena keburu luntur. Kata mereka, hal ini ga akan kejadian kalau hidup di Korea (selain musim panas kali yah..). Tapi sadar gak sih, kalau untuk hal fundamental bagi kita yang ber-Tuhan semuanya serba ada loh..!! Kita tak akan pernah merasa dibatasi untuk melakukan ibadah rutin, tidak akan pernah dibatasi untuk hanya sekedar berlama-lama di masjid setelah menunaikan shalat jumat, atau kita tidak akan dengan susah payah harus mencari tempat yang cukup tersembunyi dan nyaman untuk melaksanakan shalat jika sedang dalam perjalan, seperti shalat dalam photo box atau dalam fitting room misalnya. Tentunya hal – hal seperti ini tidak akan anda dapati jika anda hidup di Indonesia.

Tapi tinggal di Korea lain cerita. Sebagian besar masyarakat Korea boleh dikata tidak mengenal Tuhan, di lab tempat saya berada sekarang pun semua mahasiswa Koreanya tidak memiliki agama termasuk si empu nya lab (Profesor). Keadaan ini tentunya akan banyak mempengaruhi aktivitas keseharian saya. Terlebih lagi Islam sebagai agama yang saya anut bukan merupakan agama yang dikenal luas oleh masyarakat Korea. Perlu digaris bawahi bahwa menjadi minoritas itu bukan masalah utama dalam berkehidupan sosial tapi, “diminoritaskan”-lah yang seringkali menimbulkan friksi dalam bersosial.

Awal cerita saya dimulai di hari pertama saya memasuki lab ini. Dua jam setelah melakukan perkenalan diri dengan anggota lab, saya memutuskan untuk kembali bertemu profesor. Tujuan saya meminta sedikit space untuk melaksanakan shalat lima waktu di lab yang saya pikir tentunya akan sangat mempermudah aktivitas saya karena tak perlu repot kembali ke one room (Kontrakan) untuk shalat. Hal lain yang saya minta adalah izin untuk menunaikan shalat jumat disetiap jumatnya. Setelah memberanikan diri untuk mengutarakan keinginan saya, nyatanya saya harus menelan pil pahit ketika prof sama sekali tidak memperbolehkan saya untuk beribadah di dalam lab, dan lagi saya pun tak diberi izin untuk melaksanakan jumatan. Bahkan yang cukup mencengangkan untuk saya adalah saat profesor malah berkata.
“Gimana kalo ibadah kamu dipindahin aja ke sabtu atau minggu… itu ga bakalan ganggu waktu kerja kita.. kalo weekdays ya kamu harus kerja”.
Ibarat pertandingan tinju, saya hampir K.O. di dua pukulan pertama. Masih terhuyung akibat dua pukulan tadi, otak saya pun ikutan blank..
“saya shalatnya gimana dong..?!” “Jumatan gimana???”

Setelah memutar otak cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke one room setiap waktu shalat. Jarak dari one room ke lab sekitar sepuluh menit berjalan kaki, dan saya harus melakukannya di tiga kali waktu shalat yang saya lalui selama jam kerja lab. Sedangkan untuk shalat jumat, akhirnya saya melakukan negosiasi waktu kerja dengan profesor. Dan akhirnya kami bersepakat bahwa waktu kerja saya tiap hari jumat harus di tambah satu jam karena satu jam waktu kerja saya terpakai untuk perjalanan saya ke dan dari masjid serta shalat jumat itu sendiri. Win-win solution lah yah..

Memasuki minggu kedua menjalani aktifitas sebagai mahasiswa, saya sudah lumayan terbiasa dengan rutinitas baru saya di Korea, sampai akhirnya diadakanlah acara penyambutan saya sebagai murid baru di lab. Acara seperti ini di Korea sangat identik dengan makan besar dan penuh alkohol, yang tentunya sangat bertolak belakang dengan budaya ketimuran kita sebagai orang Indonesia. Acara itu pun nampaknya menjadi bulan bulanan saya. Bagaimana tidak, disepanjang malam profesor tak henti hentinya memaksa saya untuk menenggak alkohol. Tak cukup dengan mendatangi meja saya beberapa kali untuk memaksa saya minum, seluruh gelas dan bahkan air mineral dihadapan saya pun di campurnya dengan alkohol sambil berujar “kamu murid saya, ini korea, saya suka minum kamu pun harus minum”.
Tidak sampai disitu, melihat saya berhasil tidak minum hingga akhir acara penyambutan, beliau lalu menghampiri saya dan kembali berujar.
“kamu boleh lolos tidak minum malam ini.. tapi acara seperti ini sering kita adakan kok.. jadi, mungkin next time..”
saya menganggap kata-kata tersebut tentunya sebagai gambaran tentang bagaimana kehidupan saya akan berjalan selama menuntut ilmu disini. Dan tentunya bayangan saya untuk menuntut ilmu dengan tenang, nyaman dan kondusif harus pupus.

Pengalaman minggu kedua ini betul-betul membuat saya K.O. Saya pulang ke one room dengan pikiran super kalut dan merasa “mungkin saya gak jodoh belajar di Korea” dan seakan mengaminkan hal tersebut, malam itu pun saya telah mengantongi restu orang tua saya untuk mengakhiri perjalanan akademik saya dikorea meskipun hanya dua minggu. Berat memang, tapi menurut saya masalah yang saya hadapi ini sudah jelas pilhannya. Tak mungkin rasanya saya mengorbankan apa yang saya yakini hanya untuk gelar akademik yang tak akan saya bawa sampai ke lahat.

Tak perlu menunggu lama, keesokan harinya, saya pun membuat janji untuk bertemu dengan profesor. Dengan hati yang sudah mantap saya pun mengutarakan keinginan saya untuk mundur dari labnya dan menjelaskan semua alasan yang mendasari keputusan tersebut. Setelah mendengarkan penjelasan saya profesor pun diam sejanak. Dan apa yang terjadi berikutnya sungguh diluar ekspektasi saya yang sudah bulat untuk mengakhiri perjalanan akademis saya di Korea. Alih alih mengamini keputusan saya untuk mundur dari lab, profesor meminta maaf atas perlakuannya semalam, dan bahkan ia memberikan kelongggaran kepada saya dalam beribadah. Ia pun mengakui bahwa apa yang dilakukannya murni karena ketidak tahuannya tentang muslim dan agama itu sendiri. Suatu pengakuan yang menurut saya sulit untuk tidak dimaafkan dan diberi kesempatan lain. Selain itu dengan meminta maaf saya merasa bahwa beliau menurunkan sedikit egonya sebagai profesor, hal yang menurut saya sangat jarang ditemui dari seseorang yang memiliki posisi seperti beliau.

Saya mahasiswa yang tidak terlahir dan di tumbuhkan dengan latar belakang pesantren maupun sekolah berbasis islam sehingga mungkin pengetahuan agama saya masih sangat minim. Teman- teman sekitar saya pun mengenal saya sebagai sosok yang “biasa-biasa saja”, dan artikel ini pun saya tuliskan bukan untuk bermaksud menggurui pembaca tentang hal agamis karena menurut saya itu sangat jauh dari kemampuan pribadi saya, tapi melaui artikel ini saya ingin berujar bahwa:

“Bebas melakukan ibadah dan menjalankan titah agama sesuka hati kita itu adalah suatu kenyamanan dan kenikmatan yang sering sekali luput dari rasa syukur kita, dan baru terasa setelah kebebasan itu nyaris di ambil dari kita.”

Saya menganggap bahwa pengalaman di awal kedatangan saya di Korea ini adalah sebagai penguji keimanan saya dan sangat betul bahwa dengan hanya kita mengaku beriman tidak lantas membuat kita betul-betul beriman sementara keimanan kita belum dicoba..
Tapi bukan berarti saya sudah merasa diri saya sangat beriman yah.. HEHEHEHE

Dan yang terakhir terlepas dari semuanya, nampaknya saya tetap harus berterima kasih kepada profesor saya, teman-teman lab saya dan Korea, karena ternyata saya kembali disadarkan bahwa orang orang seperti Saya dan Anda yang sedari kecil sudah ditanamkan nilai-nilai Ke-Tuhanan pun tetap harus kembali belajar mengenal Tuhan dari orang-orang yang tak ber-Tuhan di negara tak ber-Tuhan…

AMI (Alias)
Mahasiswa di salah satu universitas Korea, IMUSKA 2018

Leave a Reply