Tiap-tiap generasi mempunyai tantangannya masing-masing. Di generasi kita saat ini teknologi sedemikian canggih sehingga dengan mudahnya kita dapat menyaksikan/mendengar khutbah dari tempat jauh hanya dari beberapa sentuhan tangan saja. Akan tetapi ini semua juga menjadi kekurangan kita dalam generasi ini, di mana cukup nampak sebagian kita, utamanya kita para laki-laki, semakin kesulitan dan terjauhkan dari memuliakan sunnah Nabi SAW sekaligus perintah Allah yang satu ini, yakni memakmurkan masjid. Jika permasalahannya adalah kondisi di kota kita yang tidak ada masjid dan musholla, atau kendala udzur syar’i lainnya, maka mudah-mudahan Allah merahmati kesulitan kita. Akan tetapi, jika tersebab kendala dalam pemahaman, atau kesulitan dari dalam diri sendiri, maka cukup disayangkan dan tentunya perlu kita upayakan agar mudah-mudahan kita bersama bersemangat dalam sunnah ini.
Pertama-tama, perkenankan penyusun mengutip firman Allah SWT yang artinya:
“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran” [QS Al ‘Ashr: 1-3].
Saudaraku sekalian, karena memakmurkan masjid/mushalla termasuk amal shalih, sunnah Nabi (SAW) serta perintah Allah yang dapat lahir sebagai buah dari keimanan, maka ketika kita sekedar terjauhkan, atau pun berenggan-enggan, meninggalkan, memandang ringannya, atau menyepelekannya sekali pun, bukankah ini dapat menyebabkan kerugian pada kita, seperti yang Allah firmankan dalam surah Al-‘Ashr di atas? Dalam hal ini, penyusun memohon untuk diizinkan untuk mengajak pembaca sekalian merenungi beberapa hal yang jika kita lihat, sepertinya dapat menjadi kerugian bagi kita. Beberapa di antaranya barangkali adalah sebagai berikut.
Kerugian 1: Terdekatkan Pada Bahaya dari Sikap Menyepelekan
“Kallaa innal insaana layathghaa, arra-aahustaghnaa” (Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup; QS Al ‘Alaq: 6-7).
Izinkan penyusun kembali mengajak diri sendiri sekaligus pembaca sekalian untuk mengkhawatirkan diri kita, yaitu ketika kita terjauhkan suatu amalan sunnah atau pun perintah Allah SWT. Bahwa jika kita sedang berada dalam posisi ini, maka seakan-akan kita sedang berada lebih dekat dengan sikap merasa cukup dan terlena dengan segala kecukupan yang Allah karuniakan pada diri kita: kesehatan kita, umur kita yang mungkin masih tergolong muda, kesehatan kita, waktu kita, amal kita, harta kita. Na’udzu billah, mari kita berlindung kepada Allah dari sikap istaghna (sikap melihat diri cukup) ini. Dan ketika kita cenderung pada menyepelekan sesuatu, lazimnya kita akan berbuat kesalahan pada hal tersebut, atau tergelincir pada kesalahan-kesalahan lain. Mari kita renungi ayat cintaNya yang berikut ini:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan…” [QS Al-Baqarah: 204]
Tentang ayat ini, mufassir menjelaskan bahwa mengikuti langkah-langkah syaithan berkaitan dengan tidak masuknya seseorang kepada Islam secara menyeluruh. Sehingga, ketika kita terdekatkan dengan sikap menyepelekan ini, dengan sendirinya cenderung memprogram diri kita (yang barangkali juga saya sendiri) untuk menjauh dari Islam dan sekaligus mengikuti langkah-langkah syaitan. Mudah-mudahan Allah menjaga kita dari sikap seperti ini, dan kepadaNya kita memohon pertolongan.
Kerugian 2: Orang-orang Yang Memakmurkan Masjid Allah Adalah Orang-orang Yang Beriman
Maka terjauhkannya kita dari sunnah memakmurkan masjid ini pun berarti terjauhkannya kita dari kesempatan diakui oleh Allah sebagai bagian dari orang-orang yang beriman.
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” [QS AtTaubah: 18]
Dalam ayat ini, Allah juga mengharapkan mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk. Inilah kesempatan yang kita lewatkan ketika kita terjauhkan dari memakmurkan masjid.
Kerugian 3: Masjid/Mushalla Tempat Kaum Muslimin Berkumpul dan Belajar Untuk Berpegang Pada Tali Allah
Di negeri tempat kita berasal saja fungsi ini sangat terasa. Apatah lagi di negeri ini, di mana kaum muslimin menjadi minoritas, dan orang-orang senegara pun minoritas. Sehingga orang-orang yang terjauhkan dari sunnah memakmurkan masjid, terjauhkan pula dari manfaat ini. Padahal Allah SWT dengan penuh kasih sayang berpesan dalam kalam cintaNya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ
“Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama, dan janganlah berpecah belah…” [QS Ali Imran: 103]
Dengan memakmurkan masjid, mudah-mudahan semakin mempermudah hati-hati kita untuk dekat dengan usaha berpegang kepada tali-Nya yang kokoh, hingga mudah-mudahan Allah mewafatkan kita dalam keadaan seperti ini; dalam keadaan ber-is’tishom bi hablillaah jamii’an; berpegang teguh pada taliNya bersama-sama. Karena sunnah memakmurkan masjid ini bukan hanya termasuk dalam syi’ar islam, tetapi juga tercantum dalam alQuran, seperti tersebut di atas.

Seoul Central Masjid
Seoul Central Masjid
Kerugian 4: Masjid/Mushalla Adalah Tempat Kita Belajar Membina Manisnya Iman
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم).
Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, “Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhari Muslim dengan redaksi Muslim)
Di masjid, tempat berkumpulnya orang-orang yang berusaha untuk berbuat kebaikan ini, kita belajar untuk mencintai Allah SWT dan RasulNya melebihi cinta kepada selain keduanya, dan sekaligus belajar mencintai saudara-saudara kita semata-mata karena Allah SWT; dengan terus belajar untuk saling tolong menolong (ta’awun) dalam kebaikan dan ketaqwaan, sekaligus menghindari ta’awun dalam dosa dan permusuhan [lihat QS Al-Maidah: 3]. Karena, firman Allah:
“Semua pertemanan di hari itu (hari kiamat) menjadi permusuhan, kecuali orang2 yg bertakwa.” [QS AzZukhruf: 67]
Kita pun dapat belajar dan membina kebencian pada kekufuran layaknya kita membenci dilemparkan ke dalam neraka. Sebaliknya, ketika kita terjauhkan dari sunnah ini pun, kita cenderung pula terjauhkan dari tempat yang sangat baik untuk belajar membina serta merasakan manisnya iman ini. Dan hanya pada Allah-lah kita memohonkan taufiqNya.
Kerugian 5: Mencintai dan Terikatnya Hati Pada Masjid Membuka Kesempatan Mendapat Naungan Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.
3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.
5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
[HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712]
Dari hadits ini, jelaslah kerugian yang kita derita ketika terjauhkan dari memakmurkan masjid; yaitu terjauhkannya diri dari kesempatan mendapat naungan Allah SWT, di hari tidak ada lagi naungan selain dariNya. Karena, mudah-mudahan saat ini bukanlah saatnya kita mengharap untuk menjadi salah satu di antara ketujuh golongan tersebut, akan tetapi ini adalah saat kita untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang menghalangi kita dari berharap untuk termasuk dalam ketujuh golongan tersebut? Mudah-mudahan Allah permudah hal ini bagi kita, aamiin.
Kerugian 6: Tidak Mendapat Keutamaan Shalat di Dalamnya
Jika kita shalat sendiri di rumah, pahalanya hanya satu. Akan tetapi ketika berjamaah di masjid/mushalla, maka lebih utama 27 derajat, atau 27 kali lipat pahala sendiri. Kita sudah sering mendengar hadits mengenai hal ini. Ini berarti, kedudukannya sebanding dengan pahala shalat kita secara sendiri-sendiri dalam 5 HARI [27 kali lipat = (5 waktu shalat x 5 hari )+ 2 waktu Shalat]. Di sini jelaslah juga kerugian ketika kita terjauhkan dari sunnah memakmurkan masjid.
Dan keutamaan ini hanya untuk shalat selain subuh dan ‘isya. Karena untuk shalat subuh dan isya’, keutamaannya terlebih lagi. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat ‘isya berjama’ah (di masjid) maka seolah-olah ia shalat separuh malam dan barang siapa shalat subuh berjama’ah (di masjid) maka seolah-olah ia shalat sepanjang malam” [HR Muslim]. Jika di saat musim semi ini malam (sejak terbenam matahari hingga waktu subuh) sekitar sebelas jam, maka sama saja dengan 11 x 60 menit = 660 menit. Jika kita shalat sunnah 2 raka’at yang pendek bisa mencapai 5 menit, maka dalam satu jam kita akan mendapat 12 kali shalat, dan dalam semalaman di musim ini kita akan mendapat pahala 134 kali shalat tersebut. Maka pahala shalat subuh berjama’ah di masjid/mushalla sebanding dengan 134 kali shalat (shalat semalam suntuk) di musim ini, yang hanya juga biasa dilakukan dalam sekitar sepuluh menit di masjid/mushalla kita.
Barangkali karena jauhnya lokas masjid/mushalla, kita bisa berkata bahwa mari shalat di asrama pabrik atau mahasiswa saja. Tapi tetap berjamaah. Dalam kondisi darurat di sela-sela kerja dan kesibukan, mungkin alasan ini logis.
Akan tetapi Allah SWT Maha Tahu usaha kita dalam kondisi yang lebih lapang, dan di saat ini kita berada dalam kondisi yang (mungkin relatif) lebih berkecukupan dibanding banyak orang di tanah air. Sehingga, dengan berbagai kemudahan ini, perkenankan penyusun mengajak kita bersama agar jangan membudayakan alasan ini seterusnya. Hal dapat mengingatkan penyusun kepada pesan Dr Abdullah Azzam kepada para pemuda, yang berbunyi kira-kira: “Wahai pemuda, jika kalian pelit kepada Allah hari ini, maka ketahuilah waktu akan lebih pelit lagi kepada kalian di kemudian hari.” Maksudnya, jika di masa muda kita berenggan-enggan untuk berbuat kebaikan, maka di masa lebih tua kita akan mendapatkan kesulitan yang juga akan semakin tidak ringan.
Juga karena kaidah “besar pahala tergantung kesulitannya” seperti dalam hadits. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءَ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَء
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian.” [HR. Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031 (Ash-Shahîhah no. 146)].
Jadi, jika saat ini lokasi jauh menjadi tantangan, marilah kita berusaha untuk menanam keyakinan, bahwa dalam kesulitan yang lebih ini, maka pahalanya pun akan lebih besar. Maka di sini pula mudah-mudahan dapat kita tarik benang merah: mudah-mudahan usaha-usaha kita untuk berbuat baik dalam kondisi minoritas, dan masjid pun berlokasi jauh, serta kenikmatan adzan yang indah bersahutan saat ini terjauhkan dari kita, mudah-mudahan pula ini membuka kesempatan besar untuk mendapat pahala dan ampunan Allah SWT yang lebih besar volumenya dibanding jika kita berada di tanah air, negeri mayoritas muslim.
Apalagi, dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya seseorang di antara kalian tetap dianggap shalat selama ia di masjid sampai ia keluar darinya. [HR Ahmad]
Ya Allah, mudahkanlah urusan-urusan kami hingga dapat berdekat-dekat dengan kebaikan ini selagi muda, dan umur masih ada.
Kerugian 7: Terjauhkan Dari Keutamaan Berkhidmah Di Dalamnya
Dikisahkan ada seorang wanita yang biasa membersihkan masjid, di mana ketika meninggalnya Rasulullah SAW dikisahkan sangat bersedih atasnya.
“Ada seorang wanita yang memungut kotoran dari masjid, lalu ia meninggal dunia, sedang Nabi SAW tidak mengetahui mengenai penguburannya sehingga beliau bersabda, ‘Apabila ada seorang yang meninggal di antara kalian maka hendaknya memberitahukannya kepadaku’, lalu beliau melakukan shalat jenazah untuknya (wanita tersebut) seraya bersabda, ‘Sesungguhnya aku melihatnya di surga karena tindakannya memungut kotoran di masjid.’” [HR Thabrani, dalam Majma’uz Zawaid disebutkan bahwa riwayat Anas dari hadits ini termasuk shahih]
Penyusun sangat yakin bahwa masih lebih banyak lagi amal-amal shalih khidmah yang dapat pembaca pikirkan dan kemudian kerjakan di masjid/mushalla masing-masing. Sehingga mudah-mudahan kesempatan untuk berkhidmah ini dapat kita usahakan, agar mendapat kemaslahatan dan keutamaan berkhirmah di dalamnya. Mudah-mudahan Allah bimbing kita dalam kebaikan.
Ikhtitam
Kita berlindung pada Allah dari merasa dan menganggap amal kita dapat mengantarkan ke surga, karena amal-amal kita tidak akan sebanding dengan nikmatNya yang tak terbilang. Karena hanya dengan rahmat dan ampunanNya saja kita berharap dapat dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga penuh ampunan dan rahmatNya. Namun, hal ini juga jika kita lakukan bersamaan dengan renungan: pantaskah kita mengharap rahmatNya tanpa beramal menuju rahmah dan ampunanNya, yang kerap kali justru dapat mengantar kita kepada kondisi sebaliknya; menjauh dari rahmah dan ampunannya? Dengan semangat inilah, kata “kerugian” dipilih penulis; bukan untuk membangga-banggakan keutamaan amalan, na’udzu billah. Akan tetapi sebagai bahan muhasabah kita terkait sebuah ayat dalam surah Al-Hasyr,
يَأَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَ الْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)..” [QS 59: 18]
Hadaanallah waiyyaakum ajma’iin. Allahumma yassir umuuranaa li kulli khayr, wa fii kulli khayr.

Disusun oleh:
Ahmad Nur Fadli
Mahasiswa S2 di Pusan National University
Divisi Dakwah PUMITA (Persaudaraan Umat Muslimin Indonesia Masjid Al Fatah) Busan
Kontak IMUSKA Wilayah Selatan

Leave a Reply