Hidup adalah perpaduan antara suka dan duka, mudah dan sulit, lapang dan sempit yang kesemuanya menyatu dalam kehidupan yang fana. Begitulah kehidupan di dunia, tidak ada yang semuanya enak dan tidak pula semuanya susah. Keduanya akan datang silih berganti seperti halnya siang dan malam. Sebagai seorang muslim, dalam keadaan apapun akan terasa nikmatnya seperti dikatakan Rasulullah dalam hadist berikut:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan baik baginya dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” [HR. Imam Muslim]


Begitu juga kehidupan yang saya rasakan saat ini. Tinggal di Korea dengan segala kelebihan dan kekurangan memberikan warna tersendiri dalam hidup ini. Bagi sebagian orang yang menikmati Korea dari menonton film-film Korea yang lagi booming di Indonesia, mungkin hanya merasakan begitu nikmatnya tinggal di Korea. Karena yang dilihat hanyalah yang indah-indah saja. Dan memang itulah yang diharapkan oleh sang sutradara film.  Tapi bagi yang pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama tentu akan merasakan kehidupan yang sebenarnya. Susah dan senang, semuanya ada di sini.

Korea dengan kemajuan teknologinya tentu memberikan banyak  kemudahan bagi manusia dalam berbagai hal. Transportasi yang nyaman dan teratur sehingga bisa memperpendek waktu tempuh dari satu kota ke kota yang lain. Diakui atau tidak, transportasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi denyut nadi perekonomian. Korea bisa menjadi besar juga tak lepas dari rapinya di bidang transportasi. Jaringan internet yang konon katanya mempunyai kecepatan tertinggi di dunia. Download file-file besar sampai film-film yang terbaru hanya membutuhkan waktu dalam hitungan menit bahkan sampai detik. Fasilitas-fasilitas umum yang tersedia di berbagai tempat. Layanan kesehatan yang memuaskan, ditambah dengan berbagai piranti canggih untuk mendiagnosa penyakit sebagai tahapan proses penyembuhan. Dan masih banyak lagi kenyamanan-kenyamanan yang diberikan oleh negeri ini untuk penduduknya.

Kalau kita menengok ke belakang, kondisi masyarakat Korea pada tahun 70-an hampir sama dengan kondisi Indonesia pada tahun yang sama, bahkan lebih miskin lagi. Sudah menjadi hal yang biasa bagi para halaboji dan halmoni (sebutan untuk kakek dan nenek di Korea –pen) makan hanya sekali sehari. Dan sampai sekarang cerita buruk itu masih diingat oleh generasi tua saat ini. Namun, Korea telah mampu mengejar ketertinggalannya dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang. Kemajuan Korea melesat meninggalkan Indonesia. Tentunya kemajuan dan kenyamanan yang mereka dapatkan saat ini tidak diperoleh dengan gratis. Mereka ‘membeli’ dengan harga yang sangat mahal yaitu dengan bekerja keras tanpa kenal lelah. Bahkan sudah menjadi idiom orang Korea bahwa hari-harinya adalah untuk bekerja, bekerja dan bekerja, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa tuhan orang Korea adalah ‘KERJA’. Memang pada kenyataannya, mayoritas penduduk Korea (menurut data statistik thn 2005) adalah no religion sebesar 46,5%, barulah disusul Budha (22,8%)  dan Kristen (18,3%). Islam hanya tercatat sebanyak 0,1 % dari seluruh penduduk Korea. Bagi orang Korea, agama adalah milik para orang tua saja. Korea yang hanya berfikir duniawi saja bisa bekerja secara profesioanal dan penuh kesungguhan, tentunya sebagai seorang muslim yang meyakini akan tujuan hidup yang sesungguhnya, akan lebih baik lagi dalam bekerja. Sebuah pelajaran berharga yang layak diterapkan oleh negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia.

Dimanapun kaki berpijak, disitulah kuasa Allah berada.  Sebagai seorang muslim harus menyadari bahwa dimanapun kita berada, Allah memerintahkan untuk tetap beribadah kepadaNya, menjalankan syariatNya dan menjauhi laranganNya.  Pun bagi kita yang tinggal di Korea. Kewajiban sebagai hamba tetap harus kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Kewajiban seorang muslim tidak hanya kepada Tuhannya saja melainkan juga meliputi hubungan dengan sesama manusia dan dengan makhluk yang lain. Muslim yang baik adalah yang memberi banyak manfaat kepada orang lain. Namun, tinggal di suatu negeri tanpa agama seperti Korea ini bukanlah tanpa masalah. Tantangan bisa muncul mulai dalam hal budaya sampai makanan. Pemahaman kita akan tantangan-tantangan dan bagaimana cara menyelesaikannya ini menjadikan kita lebih kuat dalam menghadapi berbagai hal. Sehingga kita akan menjadi orang yang dicintai Allah dan sesama karena kehadiran kita dirasakan manfaatnya. Alhamdulillah ada sisi baik dari orang Korea, mereka tidak begitu mempermasalahkan agama seseorang. Istilahnya mau apa saja terserah, asal tidak mengganggu.

Makanan menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan di negeri ini. Tidak seperti di Indonesia yang bisa mengandalkan LP POM-MUI untuk menentukan halal tidaknya sebuah produk, di Korea nyaris pribadi masing-masing yang harus ekstra hati-hati memilih dan memilah makanan yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi. Bersyukur ada KMF (Korean Muslim Federation) yang sudah banyak membantu memberikan panduan produk halal. Namun tetap saja kita harus berhati-hati karena seringkali ingredient berubah secara tiba-tiba yang ternyata mengandung unsur tidak halal. Baiknya, produsen Korea termasuk jujur dalam menyampaikan isi produknya. Bahkan bisa dibilang, produk Korea (yang halal) lebih halal daripada produk Indonesia karena detailnya informasi yang ada di kemasan J. Sampai-sampai keterangan bahwa produk tersebut diolah dengan mesin yang sama dengan produk yang mengandung babi-pun tercantum dalam kemasan. Hal ini tentu sangat memudahkan seorang muslim untuk memilih makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Terlebih saat ini hampir di setiap kota terdapat toko semacam Asia Mart, Foreign Mart atau World Food  yang menyediakan berbagai produk halal dari negara-negara muslim termasuk Indonesia. Kalaupun kebetulan di kotanya tidak ada toko halal, kita bisa memanfaatkan teknologi dengan membeli secara online. Sungguh, kemudahan yang diberikan Allah kepada muslim yang mau bersungguh-sungguh.

Bagi keluarga yang sudah mempunyai putra, seringkali masalah makanan juga menjadi permasalahan tersendiri. Makanan yang disukai anak-anak belum tentu bisa dimakan karena terdapat bahan-bahan yang tidak halal. Di lain sisi, saya sangat bersyukur  Allah mengirimkan saya dan keluarga disini. Proses mengenalkan tentang halal dan haram bisa dimulai lebih awal. Belum tentu ini akan saya berikan kepada anak-anak semenjak kecil karena bisa dikatakan semua makanan di Indonesia adalah halal. Bersyukur lagi, anak-anak relatif mudah diberikan pemahaman, sehingga tidak merengek ketika makanan tersebut tidak halal. Mereka juga senantiasa bertanya apakah ini halal atau tidak (terutama makanan yang belum pernah dimakan sebelumnya) sebelum memakannya.  Alhamdulillah

Selain makanan, penanaman kebiasaan beribadah kepada Tuhannya juga sering menjadi kendala ketika berada di negeri ini. Maklumlah, negeri yang terkenal dengan ginsengnya ini tidak mengenal aturan agama dalam  kehidupan sehari-hari. Pemandangan orang bermabok ria menjadi hal yang biasa di setiap tempat terutama akhir pekan atau hari-hari libur yang lain. Perilaku muda-mudi yang lagi mabok asmara yang tanpa malu mempertontonkan atraksinya di muka umum juga menjadi pelajaran buruk bagi anak-anak kita. Waktu sholat yang kadang ‘mengganggu’ jadwal bermain, juga menjadi kendala tersendiri buat anak-anak. Belum lagi ketika Ramadhan, pemandangan orang-orang makan ada didepan mata, yang tentunya bisa jadi melemahkan semangat anak-anak kita -bahkan mungkin kita sendiri- untuk menjalankan syariat-Nya. Mendidiknya agar menjadi anak yang imun, begitulah nasehat ustadz dalam sebuah kajian tentang Pendidikan Anak Dalam Islam. Walaupun berada di tengah lingkungan yang tidak kondusif, anak-anak tetap bisa menjalankan agamanya dengan penuh kepahaman.

Selalu saja ada hikmah dibalik setiap segala sesuatunya. Begitu banyak hikmah yang bisa kita ambil dalam setiap syariatNya. Kenapa Allah mengharamkan khamr? Karena disitu banyak sekali kemudharatan dibanding dengan manfaatnya. Tidak ada yang menyangkal bahwa khamr mempunyai dampak buruk bagi kesehatan. Orang Korea minum soju (khamr Korea) untuk menghilangkan stress setelah aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran. Akan tetapi mereka melupakan efek samping yang merugikan bagi kesehatannya dan bahkan bisa mengacaukan tatanan sosial kemasyarakatan. Islam adalah ajaran yang sempurna. Islam mengajarkan bagaimana mengelola diri sehingga tidak terjatuh dalam kerugian yang besar. Begitu juga dalam hal pergaulan, Allah memberikan batasan-batasan untuk menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak kehidupan pribadi dan masyarakat. Para orang tua Korea sudah merasa miris melihat pergaulan muda-mudi Korea saat ini yang sudah diluar batas. Orang tua Korea khawatir melihat perkembangan saat ini menjadikan Korea sudah pada akhir generasi. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa sempurnanya Islam yang mengatur seluruh sisi kehidupan dengan sempurna. Sayangnya, orang Islam sendiri masih banyak yang belum menerapkan aturan yang sempurna ini dengan benar.

Bersyukur Allah telah mengirimkannya saya dan keluarga di negeri ini. Allah hendak memberikan pelajaran agar kami lebih banyak bersyukur akan nikmat Islam yang begitu besar. Tidak satupun syariat Allah kecuali memberikan kemanfaatan buat kita. Memang kesulitan-kesulitan sering menghampiri, namun bukankah Allah telah berjanji “Maka sesudah kesulitan ada kemudahan” yang diulang sampai dua kali dalam satu surat. Allah menyebutkan kata ‘kesulitan’ dua kali dalam makna yang sama sedangkan ‘kemudahan’ disebut dua kali pula tetapi dalam makna yang berbeda. Ini artinya dalam satu kesulitan, Allah memberikan banyak kemudahan. Subhanallah. Masihkah kita ragu untuk menjadi hamba yang dicintaiNya?

Cheongju, penghujung April 2011

[Peserta Pilihan Lomba Esai PPM-IMUSKA oleh Wanti Utami, Cheongju]