Setelah menjalani bulan Ramadhan dengan diisi ritual ibadah dalam peningkatan nilai-nilai agama agar memperoleh derajat ketakwaan, kini kaum muslimin dipersiapkan kembali untuk menjalankan ritual ibadah haji bagi kalangan yang mampu. Tentu kriteria mampu tersebut mencakup kemampuan badan dan harta. Karena ibadah ini bersifat ibadah badan dan harta. Tidak cukup seseorang yang memiliki harta yang berlimpah namun kondisi badannya tidak stabil. Begitu pula seseorang yang memiliki kekuatan dan kekebalan tubuh yang seimbang tetapi tidak diimbangi modal harta yang baik justru tidak bisa berangkat dan memenuhi panggilan haji tersebut. Dengan demikian kedua kesempatan ini harus selaras demi tercapai haji yang optimal dan mabrur. Akan tetapi bekal yang paling dibutuhkan ialah bekal ketakwaan sebagai modal utama yang perlu tertanam. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197 yang berbunyi sebagai berikut.

haji

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

Dalam melaksanakan ibadah haji diperlukan pembekalan dalam perjalanan di dunia dan perjalanan dari dunia. Maksud perjalanan di dunia ialah penyediaan kebutuhan hidup saat menjalani ritual ibadah haji berupa makanan dan minuman serta fasilitas fisik lainnya yang bisa menunjang kelancaran ibadah. Adapun perjalanan dari dunia ialah pembekalan berupa pengetahuan akan Allah serta dorongan rasa cinta dalam menghindari hal-hal yang bisa menghalangi diri untuk taqarrab kepada Allah. Dalam hal inilah tertanam nilai bahwa ibadah itu harus diupayakan untuk selalu berkorban, baik segi kekuatan badan maupun materi. Sebagaimana Allah selalu menyeru kepada hamba-hamba-Nya untuk senantiasa berjihad (berkorban) dengan dirinya (kekuatan fisik) maupun dengan hartanya. Baik berupa ibadah mahdhah (hubungan vertikal) maupun ghairu mahdhah (hubungan horizontal). Namun bekal ini bukan menjadi penghalang dan lalai akan ibadah kepada-Nya, justru sebagai penunjang dalam kelancaran ibadah.

Fakhruddin Al-Razi membagi pembekalan takwa menjadi dua bagian, yakni pembekalan di dunia dan pembekalan untuk akhirat. Pembekalan di dunia hanya sebatas menghilangkan kesulitan dan kehimpitan yang dikhawatirkan, padahal pembekalan akhirat bisa membebaskan diri dari kesulitan dan adzab yang sudah pasti. Begitu pula pembekalan di dunia hanya bisa memenuhi kenikmatan yang sempat terputus, sedangkan pembekalan untuk akhirat bisa menghindarkan diri dari adzab yang abadi. Dan pembekalan di dunia pun hanya bisa merasakan kenikmatan yang sementara dan terkadang menimbulkan penyakit, akan tetapi pembekalan akhirat bisa memperoleh kenikmatan abadi serta terbebas dari penyakit.

Selain itu calon jemaah haji perlu menyadari bahwa ritual ibadah itu berada dalam lingkaran safar (bepergian/melancong). Termasuk seseorang yang berkedudukan dan berstatus warga Makah dan Madinah sekalipun tetap dianggap orang yang safar di saat ia melaksanakan ritual ibadah haji. Dengan demikian diperbolehkan melaksanakan shalat dengan jamak dan qashar. Begitu pula seorang yang bepergian menyimpan pesan penyadaran bahwa hidup seorang manusia seperti orang yang berpergian saja, hanya melewati ruang dan waktu secara singkat. Hakikat kehidupan ialah kehidupan ukhrawi yang kekal lagi abadi.

Penulis : Ust. Rifqi Sururi

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry