Meskipun sudah hampir lima bulan saya kembali ke Indonesia, tapi pengalaman tinggal di Korea selama empat tahun lamanya masih membekas dalam di benak saya. Satu tahun tinggal di kota besar yaitu Gwangju, dan tiga tahun tinggal di tengah hiruk pikuk kepadatan ibukota Seoul, Korea Selatan memberikan saya banyak pengalaman terutama dalam menjadi salah satu muslimah di Negara minoritas ini. Pada awalnya membawa identitas sebagai orang asing dan juga sebagai seorang muslimah cukup menantang buat saya yang belum pernah tinggal di luar negeri dalam waktu yang lama. Terutama dalam segi budaya dan makanan yang membuat saya cukup rempong mempersiapkan segala sesuatunya sebelum datang ke Korea. Berikut beberapa hal yang menjadi tantangan tersendiri bagi seorang muslim atau muslimah yang saya alami selama saya tinggal di Korea.

Check this out 🙂

  1. Kamu harus siap diliatin orang-orang 

Korea sebagai negara dengan satu ras (single-race nation) atau yang biasa disebut danil minjok (단일민족) terbiasa dengan satu ras saja dari zaman nenek moyang mereka. Sehingga menurut pengamatan saya dan beberapa informasi yang saya dapatkan, mereka masih terkadang asing dengan orang-orang yang datang dari luar Korea. Jadi selama orang-orang itu bukan orang Korea, alias orang asing yang punya ciri khas yang berbeda dari orang-orang Korea, mereka pasti setidaknya pernah sekali menjadi pusat perhatian apabila ada di tempat umum seperti public transportation. 

Ini yang juga terjadi bagi muslim dan muslimah yang berkunjung atau tinggal di Korea. Terutama para muslimah yang berhijab. Kenapa? Karena terkadang mereka masih sangat amazed dengan kain penutup kepala yang kita gunakan yang terkadang tidak hanya berwarna natural, tapi juga bermotif atau dibentuk berbeda-beda sesuai style masing-masing. Jadi jangan heran kalau banyaaaak sekali yang ngeliatin terutama di subway atau bis atau tempat-tempat yang banyak orangnya. Biasanya, orang-orang tua yang lebih “kepo” melihat kita dari atas sampai bawah. Bahkan ada yang sampai berkali-kali memalingkan wajah ke arah kita saking penasarannya, ini orang pakai apa sih di kepalanya.. hehehe…

Malah kalau sepanjang lika-liku hidup saya di Korea, saya sudah banyak sekali mendapat pengalaman-pengalaman lucu ketika dilihatin orang-orang. Dari yang mulai menyebut saya orang India, orang Arab, membicarakan saya dengan teman sebelahnya di depan saya dengan bahasa Korea (padahal setidaknya saya cukup ngerti bahasa Korea), ditangisin anak bayi karena mungkin dia kaget belum pernah lihat orang seperti saya, dibilang aneh sama anak kecil umur 5 tahunan yang heboh bilang ke ibunya “This woman is weird” sambil frantically nunjuk-nunjuk saya… Sampai ditanyain nama penutup kepala ini apa, atau sampai ditanyain dari mana asalnya, kenapa harus pakai, apa tidak panas pakai itu (terutama saat musim panas), dan masih banyak lainnya.. Alhamdulillah, pengalaman-pengalaman ini tidak sampai berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi setidaknya buat teman-teman berjilbab yang mau berkunjung ke sini, jangan GR atau jangan malu ya kalau dapat perhatian lebih dari orang-orang Korea karena mereka masih penasaran sama kerudung yang kita pakai ini..^^

  1. Lebih selektif dalam memilih makanan

Korea dikenal sebagai negara yang suka makan barbeque terutama yang berasal dari daging babi. Tidak hanya BBQ, makanan-makanan yang lainnya pun dibuat dengan bahan utama daging yang tidak bisa kita makan ini. Jadi harus sangat hati-hati apabila mencari makan di luar, karena masih jarang restoran-restoran yang menyediakan makanan halal. Alhamdulillahnya, masih ada beberapa menu yang terbuat dari sayuran atau seafood meskipun kita masih harus memastikan lebih jauh lagi.

Ada juga banyak orang yang memilih untuk memakan daging selain babi yang bersertifikat halal. Untuk menu-menu ini, memang harus pergi ke restoran-restoran yang mempunyai sertifikasi halal yang muslim friendly. Sudah cukup banyak restoran yang menyediakan makanan halal terutama di dekat masjid Itaewon (masjid utama di Seoul dan terbesar di Korea) dan juga di tempat wisata seperti Nami Island.

Berikut saya sertakan beberapa kalimat yang diperlukan ketika kita memesan makanan untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan yang tidak bisa kita makan.

-저는 돼지고기 못 먹어요. 돼지고기 없는 메뉴 있어요? (Jeoneun dweji gogi mot meogoyo. Dweji gogi eobneun menyu isseoyo?) : Saya tidak bisa makan daging babi. Ada menu yang tidak ada daging babinya?

-돼지고기, 햄 들어가요? (Dweji gogi, ham deurogayo?) : Ada babi atau hamnya?

-고기/햄/돼지고기 빼주세요 (Gogi/ham/dweji gogi ppaejuseyo) : Tolong jangan masukan daging/ham/daging babi

-육수에 돼지고기, 돼지뼈 들어가요? (Yuksue dweji gogi, dweji ppyeo deurogayo?) : Ada daging babi atau tulang babi tidak di kaldunya?

Jadi mungkin ketika ke restoran Korea bisa menggunakan kalimat-kalimat di atas untuk memastikan bisa tidaknya makanan itu kita makan. Memang lebih amannya sih makan di restoran-restoran yang sudah terjamin halalnya, atau masak sendiri. Tapi terkadang ada saat kita sangat sibuk atau ingin mencoba makanan lain yang ala Korea atau saat kita malas masak sendiri, kita ingin pergi keluar untuk makan, kalimat-kalimat ini setidaknya berguna untuk teman-teman yang belum fasih berbahasa Korea.

  1. Tidak ada banyak musola atau masjid 

Karena Korea bukanlah negara dengan populasi muslim yang banyak, jadi tidak heran apabila tidak ada banyak musola atau masjid yang tersebar. Hanya ada masjid utama dan beberapa musola kecil di kota besar seperti Seoul dan minimal 1 sampai 2 masjid atau musola di beberapa tempat lain (terutama kota-kota besar). Jadi apabila kita tidak sedang berada di area yang dekat dengan masjid, hal ini menjadi tantangan tersendiri buat para muslim dan muslimah dalam mencari tempat untuk solat. Memang ada beberapa musola yang dibuat khusus untuk wisatawan asing di tempat wisata seperti Nami Island, Petite France, Everland Theme Park, Lotte World, Lotte Mall Jamsil, COEX, dan Korean Tourist Information Office di City Hall. Selain itu saya tidak ingat ada tempat wisata lain yang menyediakan tempat solat khusus.

Jadi berikut ini adalah beberapa spot favorit saya untuk solat:

  • Fitting Room atau Kamar Pas (Seperti toko-toko seperti Un*q*o, H*M, Z**a, For***r 2*, Mixxo, Top Ten, dan toko-toko baju lainnya yang mempunyai kamar pas). Jadi akan mudah sekali kalau teman-teman sedang berbelanja di pusat perbelanjaan seperti Myeongdong, Gangnam, atau Dongdaemun. Ketika waktu solat datang, cari saja toko-toko baju seperti di atas dan ambil beberapa helai baju, masuk ke kamar pasnya, solat deh^^ (Boleh kok sekalian coba bajunya hehe). Pssst… tempat kamar pas favorit saya ada di Un*q*o Myeongdong atau semua brand yang sama  di seluruh Korea hihi
  • Tangga darurat. Biasanya di gedung-gedung mall atau perbelanjaan, ada tangga darurat yang cukup lapang untuk digunakan sebagai tempat solat. Cari saja tempat yang tidak terlalu padat dilalui orang, gelar sajadah atau alas, solat deh. Mungkin agak aneh pertama kalinya kalau kita sendiri, namun kalau niat kita sudah baik insyaAllah Allah akan mudahkan. Kenapa saya pilih tangga darurat? Karena tidak terlalu ramai dan tidak menarik perhatian orang. Terkadang kalau ramai kita masih suka nggak khusyu’ memikirkan pandangan ora ng di sekitar kita. Ya tidak? (Hanya opini pribadi saja sih^^ hehe)
  • Taman. Banyak tempat-tempat yang bisa digunakan untuk solat seperti di bawah pohon, di dekat semak-semak atau di spot lainnya. Terutama kalau sedang ramai-ramai piknik, lebih gampang untuk solat di spot yang kita pakai.

Mungkin beberapa itu adalah tempat favorit saya untuk dijadikan musola dadakan atau musola pribadi kita hehe.. Semoga dengan meningkatnya turis asing di Korea, dan juga turis muslim, akan banyak dikembangkan fasilitas-fasilitas ramah untuk muslim di beberapa tempat di Korea ini. Amiin…

Ohya! Jangan lupa selalu bawa sajadah tipis atau sajadah travel atau pashmina tipis untuk digunakan sebagai alas ketika sedang bepergian. Daripada rempong harus cari alas, lebih baik kita mempersiapkan terlebih dahulu bukan? Bisa juga bawa bawahan mukena atau mukena travel yang praktis untuk dibawa dan digunakan saat kita harus solat di medan yang belum kita ketahui 😀

  1. Hanya ada wastafel untuk tempat wudumu

Masih berkaitan dengan nomor 3, tidak banyak masjid atau musola berarti tidak banyak juga fasilitas wudu untuk kita. Jadi biasanya kita memanfaatkan wastafel untuk berwudu. Hal ini terbiasa saya lakukan di Korea, jadi ketika pulang ke Indonesia kadang saya jadi latah menggunakan wastafel juga, padahal sudah ada tempat wudu khusus di musola hihi…

Tapi ada juga yang mungkin belum terbiasa atau nggak enak menaikkan kakinya ke atas wastafel untuk dibasuh. Awalnya saya juga dulu seperti itu, jadi saya siasati dengan membawa botol kemana-mana untuk membasuh kaki saya di dalam bilik ketika sedang banyak orang. Kalau sepi sih, masa bodoh hehe, asal dilap saja pakai tisu cipratan-cipratan sisa di sekitar wastafel. Tapi sekarang saya tahu fiqih wudu yang meringankan kita untuk hanya mengusap kaus kaki/sepatu ketika sedang bepergian. Namun kita harus berwudu dulu sebelum keluar rumah. Mungkin untuk lebih jelasnya lagi bisa penjelasan lengkapnya tentang ini. Mungkin tips lainnya adalah dengan hanya mengusap kaki di bawah wastafel dengan tidak menaikkan sepenuhnya ketika banyak orang terutama.. Pada intinya ini kembali ke kebiasaan dan nyamannya diri kita masing-masing^^

  1. Harus siap menjadi agen muslim yang baik

Berkaitan dengan poin nomor 1 di atas, tidak sedikit orang yang penasaran dengan agama Islam. Tidak banyak orang Korea yang menganut agama Islam dan tidak banyak orang Korea yang berkerudung. Jadi terkadang banyak orang yang penasaran dan bertanya tentang prinsip-prinsip dasar Islam. Pertanyaan-pertanyaan yang sering saya dapatkan adalah terutama mengenai jilbab atau kerudung, mengapa saya harus pakai, dan sejak kapan, bolehkah jika tidak memakai, apakah semua orang Islam itu pakai kerudung, dsb. Kemudian, berapa kali kamu harus solat (karena melihat saya beberapa kali bolak-balik izin untuk solat terutama saat ada acara di kampus), ketika solat apa yang dibaca, bagaimana cara solat, dll. Atau masalah tentang poligami, karena sepertinya mereka mendapat stereotip bahwa laki-laki muslim pasti menikahi 4 orang dan pertanyaan-pertanyaan serupa mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan dan pernikahan secara Islam, dan banyak lagi. Jadi.. untuk menjawab seabrek pertanyaan-pertanyaan ini, kita sebagai representasi orang Islam yang baik, harus menjawab dengan baik pula, sesuai dengan prinsip dan aturan yang tertulis di Qur’an dan terekam dalam Hadist, atau berbagai pendapat yang mewarnainya, sehingga kita bisa memberikan pengertian yang benar untuk masyarakat Korea yang penasaran tentang agama kita ini 🙂

Itulah hal-hal, tantangan yang saya alami sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di Korea untuk mewarnai kertas putih takdir saya sebagai seorang muslimah sampai saya kembali ke tanah air. Mungkin inilah hal-hal mainstream yang juga dialami oleh sesama saudara muslim dan muslimah kita yang tinggal di Korea. Semoga apa yang saya bagi ini bermanfaat, dan memberikan point of view yang baru buat teman-teman semua.

Author: Feby Alfida
Source: Blog Pribadi

Leave a Reply