M. Samsuri

Pertumbuhan perekonomian saat ini menjadi indikator tingkat kemakmuran dan kemajuan bangsa, namun bukan berarti langkah yang ditempuh harus sebuah kebijakan yang sifatnya instan untuk mengenjot perekonomian dengan sistem kapitalisme sesaat. Namun butuh sebuah langkah yang visioner dan fundamental untuk menopang pertumbuhan perekonomian dalam jangka panjang. Memang jika dilogikakan sesaat, mana mungkin dapat memajukan peradaban bangsa jika bangsa ini dalam kondisi miskin! Bangsa ini harus berfikir jauh kedepan, lalu dengan apakah kita bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang? Tentu bukan sekedar terjebak dengan pemikiran sporadis dan pragmatis dalam masalah ekonomi. Mari kita renungkan cerita dan saran orang-orang bijak serta pengalaman negara-negara maju, yang menekankan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai kunci dalam membangun peradabannya termasuk sistem perekonomiannya.

Jepang, negeri matahahari terbit sebagai negara yang minim akan sumber daya alam, namun perekonomiannya cukup maju. Hal ini terjadi karena Jepang menguasai Iptek yang diawali dengan adanya restorasi Meiji, kemudian dilanjutkan dengan investasi secara massive di bidang Iptek melalui pengembangan industri dan sumber daya manusianya. Hasilnya dapat kita lihat saat hampir semua produk-produk kendaran di Indonesia berasal dari Jepang seperti Honda, Toyota, Nissan, Suzuki, Yamaha dan lainya.

Korea, negeri gingseng tersebut saat ini menjadi buah bibir dunia karena secara mengejutkan mulai tahun 2000-an mereka mulai menjadi salah satu leading countries dalam berbagai industri. Contohnya pada tahun 2008 market share (porsi penguasaan pasar) mereka di bidang industri shipbuilding dan semiconductor menjadi nomor satu di dunia dan nomor dua untuk industri cellular phone. Bahkan sejak tahun 2009 mereka berubah dari recipient country menjadi donor country dan tahun tahun 2010 secara mengejutkan Korea mengekspor kemampuan teknologi pembangunan nuklir ke Uni Emirat Arab. Bukan hanya itu Korea juga memiliki kualitas sumber daya manusia terdidik yang cukup besar. Hebatnya lagi, banyak negera berkembang di kawasan Asia, Afrika dan Ameri Latin menjadikan Korea sebagai role model (percontohan) untuk pengembangan negaranya. Padahal Korea merdeka pada tahun yang sama dengan Indonesia (1945), bahkan mereka pada tahun 1950-an terlibat perang saudara sesama Korea dan gejolak itu masih ada sampai saat ini. Kita juga pasti masih ingat pada tahun 1980-an Korea masih berada di bawah Indonesia. Apakah kesuksesan Korea datang dengan tiba-tiba? tentu tidak, jika kita tengok sejarah, Korea menyadari memiliki keterbatasan sumber daya alam, maka Korea melakukan investasi yang cukup besar di bidang R&D. Untuk menjadi sukses pada tahun 2000-an, Korea telah berinvestasi secara dramatis sejak tahun 1980-an dan baru menuai hasilnya pada tahun 2000-an. Bahkan saat ini investasi R&D Korea telah mencapai angka 3,5% Gross Domestic Product (GDP=total nilai penjualan barang dan jasa suatu negara dalam setahun) dan pada tahun 2012 mentargetkan investasi R&D sebesar 5% dari GDP mereka.

Cina, negeri tiongkok ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang cukup mengancam pasar dunia. Produk-produk inovatif Cina bermunculan dengan ciri khas selalu relatif lebih murah dibandingkan dengan produk negara lain. Cina mulai berinvestasi besar di bidang R&D sejak tahun 1990-an dengan banyak mendongkrak R&D di industri dan berbagai kebijakan yang pemerintah yang berpihak pada industri dalam negerinya.

Ingat kuasai Iptek, baru kita akan dapat meningkatkan peradaban dan kesejahteraan bangsa termasuk pertumbuhan ekonomi”. Ini artinya “bangsa ini harus all out dan fokus dalam mengambil kebijakan dan melakukan langkah konkrit untuk penguasaan Iptek.

“Inikah hikmah dan bukti konkrit dari cerita sejarah Islam ketika Nabi Sulaiman as. diminta memilih tiga hal; ilmu pengetahuan, kekuasaan atau harta? maka ilmu pengetahuan yang dipilih. Kenapa? karena dengan menguasai ilmu pengetahuan maka harta dan kekuasaan/kejayaan akan didapatkan

Bagaimana dengan Indonesia?

Kuncinya adalah ”Kegiatan produktif dan inovatif”

Belajar dari  pengalaman terjadinya krisis global terutama di AS, spekulasi yang berlebihan di pasar keuangan menjadi penyebab adanya krisis global. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian akan runtuh jika dikembangkan dengan bertumpu pada motivasi mendapatkan keuntungan  yang berlebihan, utang yang besar  dan tindakan spekulatif. Perkembangan perekonomian semestinya dikembangkan dengan bertumpu pada kegiatan produktif dan inovatif dengan penguasaan Iptek sebagai locomotifnya. Sebagaimana telah dilakukan oleh Jepang, Korea dan Cina. Apalagi Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang lebih di banding negara-negara tersebut. Jika putra-putra terbaik Indonesia mampu memberikan tambahan sentuhan Iptek terhadap sumber daya alam yang dimiliki tersebut tentu menjadi nilai tambah (added value).

Penguasaan Iptek harus diikuti dengan proses transformasi Iptek yang diarahkan pada sektor industri dan UKM (Usaha Kecil & Menengah) supaya menjadi kegiatan riil yang produktif dan inovatif. Untuk Indonesia, jika sulit meyakinkan investor untuk membangun industri besar maka UKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian rakyat. Transformasi Iptek pada industri dan UKM menjadi alternatif yang paling memungkinkan. Proses penguasaan dan transformasi Iptek akan sangat efektif apabila industri dan UKM yang telah ada berperan aktif dalam melakukan riset dan memanfaatkan hasil riset. Selain itu para ilmuwan-ilmuwan muda harus mulai berfikir untuk membangun wirausaha, sehingga bisa menyerap tenaga kerja.

Penulis adalah Visiting Researcher di Korea Institute of Science and Technology Evaluation and Planning (KISTEP)
Sumber: msamsuri.blogspot.com (dsp)